Connect with us

SKI News

13 Ribu Pelajar Magetan Rabun, Gadget Jadi Teman Dekat Mata Jadi Korban

Published

on

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Angka 13 ribu bukanlah jumlah yang kecil. Apalagi jika angka itu merujuk pada pelajar yang mengalami gangguan penglihatan berupa rabun jauh maupun rabun dekat.

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan yang mencatat sekitar 13 ribu pelajar mengalami gangguan penglihatan sepanjang 2025 hingga 2026 seharusnya tidak sekadar menjadi laporan tahunan.

Angka tersebut layak dibaca sebagai alarm keras bagi semua pihak.

Hasil skrining kesehatan mata yang dilakukan pada siswa SD, SMP hingga SMA/SMK sederajat menunjukkan bahwa masalah kesehatan mata di kalangan pelajar bukan lagi kasus perorangan, melainkan fenomena yang perlu mendapat perhatian serius.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan, Rohmad Hidayat, menyebut salah satu faktor yang diduga berkontribusi adalah tingginya intensitas penggunaan handphone dalam kehidupan sehari-hari.

Mulai dari bermain game, menonton video, berselancar di media sosial hingga berbagai aktivitas digital lainnya membuat mata anak terus bekerja tanpa jeda yang cukup.

Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi yang memudahkan akses informasi, muncul konsekuensi yang tidak boleh diabaikan.

Anak-anak semakin dekat dengan layar, namun semakin jauh dari aktivitas fisik dan ruang terbuka.

Fenomena ini bukan semata persoalan kebiasaan pelajar. Orang tua, sekolah, bahkan lingkungan sosial juga memiliki peran penting dalam membentuk pola penggunaan gawai yang sehat.

Tidak sedikit orang tua yang tanpa sadar menjadikan handphone sebagai “penjaga anak” ketika sibuk bekerja.

Di sisi lain, pengawasan penggunaan gawai sering kali kalah cepat dibanding perkembangan aplikasi dan permainan digital yang semakin menarik perhatian anak.

Sekolah pun menghadapi tantangan yang tidak ringan. Transformasi digital dalam dunia pendidikan memang penting, tetapi harus diimbangi dengan edukasi mengenai kesehatan mata dan pola hidup sehat.

Jika tidak, kemajuan teknologi justru dapat menjadi bumerang bagi generasi muda.

Dinas Kesehatan Magetan terus melakukan skrining dan edukasi kesehatan mata. Namun upaya tersebut tidak akan cukup jika kesadaran bersama belum tumbuh.

Sebab persoalan ini bukan sekadar tentang bertambahnya jumlah pengguna kacamata di ruang kelas. Lebih dari itu, ini adalah tentang kualitas kesehatan generasi masa depan.

Ketika 13 ribu pelajar mulai mengalami gangguan penglihatan, pertanyaannya bukan lagi siapa yang salah. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah semua pihak sudah cukup serius mencegah jumlah itu terus bertambah?

Karena jika alarm sebesar ini masih dianggap biasa, bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan angka tersebut akan kembali meningkat, sementara generasi muda harus membayar harganya dengan kualitas penglihatan yang terus menurun.**

Jurnalis: Djoko Prayitno.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *