Connect with us

SKI News

Larungan Sesaji di Telaga Ngebel Sebagai Bertanda 1 Suro

Published

on

Suarakumandang.com,BERITA PONOROGO. Memasuki  Satu Suro atau 1 Muharram (Tahun Baru Islam) 1440 Hijiriyah 2019 pemerintah kabupaten Ponorogo, Jawa Timur kembali menggelar larungan Telaga Ngebel yang diadakan setiap tahun. Minggu,(01/10/2019).

Larungan Telaga Ngebel  merupakan  sebagai bentuk syukur yang dikemas melalui tradisi. Sebelum berlangsungnya acara, pemerintah menampilkan atraksi helicopter yang didatangkan dari Lanud Iswahjudi.

Selanjutnya datang rombongan yang membawa 5 tumpeng atau gunungan,  sebelum ditenggelamkan ketelaga Ngebel  diarak mengelilingi Telaga Ngebel sepanjang kurang lebih 6 kilometer.

Satu diantara 5 tumpeng itu berukuran besar atau tumpeng raksasa, sedangkan empat  lainnya lebih kecil namun berisi hasil bumi.

Satu tumpeng besar itu merupakan Tumpeng Agung atau Gunungan Utama yang berisi beras merah. Tumpeng yang satu ini akan dilarung menggunakan perahu dan ditenggelamkan di tengah telaga.

Dalam acara Larung Tumpeng hadir juga Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni bersama istrinya, Sri Wahyuni dan beberapa Forpimda (Forum Pimpinan Daerah), serta para Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Ipong menceritakan, larungan Ngebel menceritakan tentang asal muasal Telaga Ngebel. Makanya, Ada empat tumpeng besar yang disediakan.

“Satu tumpeng agung. Empat lagi tumpeng buceng purak. Tumpeng agung yang berisi beras merah kita larung, dan satunya untuk perebutan,” terang Ipong.

Menurut Ipong, hal itu menjadi cerita asal muasal Telaga Ngebel dan Pemerintah kabupaten  Ponorogo tetap mempertahankannya hingga saat ini.”Agar supaya orang tahu. Orang menghargai legenda seperti ini,” papar Ipong.

Ipong mencontohkan, Bali pariwisata bisa maju karena menghargai tradisi yang ada. Ia pun berkeinginan demikian, sehingga diharapkan pariwisata di Ponorogo terus maju dan berkembang.

“Ujung-ujungnya kan meningkatkan perekonomian. Seperti yang ada sekarang ini. 11 hari acara Grebeg Suro warung makan, toko suvenir dan hotel penuh,” jelasnya.

Dia menceritakan, larungan telaga ngebel bukti perwujudan rasa syukur masyarakat Ponorogo atas rejeki yang telah diterima selama 1 tahun sekarang ini.

“Dalam tradisi Jawa yang nama nya Ketuhanan Yang Maha Esa dilalui dengan cara sedekah hasil panen bumi baik pertanian maupun buah ada yang dimakan bersama-sama ada yang dilarungkan ke dalam telaga. “Bagian dari tradisi ciptaan Alloh SWT yang dikemas dalam bentuk tradisi,” pungkasnya.

Jurnalis: Yoga Kariem (Magang).

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *