Connect with us

SKI News

Safari Ramadan, Bupati Magetan: Masjid At-Taqwa Cagar Budaya, Wajib Dijaga Bersama

Published

on

Bupati Magetan saat memberikan sambutan dalam rangkaian Safari Ramadan di Masjid At-Taqwa, menegaskan komitmen menjaga cagar budaya sekaligus mengajak masyarakat merawat warisan sejarah secara bersama-sama..Foto: Suarakumandang.com

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN.Safari Ramadhan Pemkab Magetan kali ini bukan cuma soal tarawih keliling. Saat berkunjung ke , Bupati Magetan kasih pesan tegas: masjid ini sudah berstatus cagar budaya, jadi wajib dijaga bareng-bareng.

Dalam sambutannya, Bupati menekankan pentingnya “nguri-uri” alias merawat warisan leluhur.

Menurutnya, masjid bukan sekadar tempat ibadah, tapi juga simbol sejarah dan identitas daerah.

“Masjid At-Taqwa ini bukan bangunan biasa. Ini cagar budaya. Ada nilai sejarah yang harus kita jaga, kita rawat, dan kita banggakan,” tegasnya di depan jamaah.

Ia mengingatkan warga agar tidak hanya menikmati fasilitas, tapi juga ikut menjaga keaslian bangunan, kebersihan, dan suasana religiusnya.

Pemerintah Kabupaten Magetan, katanya, siap terus bersinergi dengan takmir dan masyarakat supaya pelestarian berjalan konsisten, bukan cuma wacana.

Safari Ramadhan malam itu juga diisi tausiyah dari H. Patoni.

Ia menjelaskan, puasa bukan cuma nahan lapar dan haus, tapi upgrade diri total.

Secara spiritual, puasa bikin kita makin dekat dengan Allah SWT. Secara sosial, puasa melatih empati.

“Kalau sudah merasakan lapar, hati jadi lebih peka. Dari situ lahir kepedulian,” ujarnya.

Tak hanya itu, ia juga menyinggung sisi kesehatan. Pola makan yang lebih teratur selama Ramadhan bisa membantu tubuh beristirahat dan memperbaiki metabolisme, tentu dengan cara yang benar.

Di akhir tausiyah, ia mengingatkan agar Ramadan tidak lewat begitu saja.

“Jangan sampai Ramadan cuma numpang lewat. Targetnya jelas: ketakwaan naik level,” pungkasnya.

Setelah rangkaian ibadah dan dialog, acara dilanjutkan ramah tamah di Pendopo Pondok , Desa Tamanarum.

Momen ini jadi ajang silaturahmi santai tapi bermakna antara pemerintah dan masyarakat.

Intinya simpel: ibadah jalan terus, budaya tetap terjaga. Ramadan bukan cuma soal pahala, tapi juga soal merawat sejarah dan identitas daerah.

Jurnalis:Tim Redaksi.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *