Connect with us

SKI News

Kriminalitas Turun di Atas Kertas, PR Keamanan Masih Menyala: Polres Magetan Klaim Kinerja 2025 Membaik

Published

on

Pers rilis akhir tahun Polres Magetan di Aula Mapolres Magetan. Kapolres Magetan AKBP Raden Erik Bangun Prakasa memaparkan capaian kinerja 2025, mulai penurunan angka kriminalitas, pengungkapan kasus narkoba, hingga evaluasi kamtibmas.

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Polres Magetan menutup tahun 2025 dengan klaim kinerja positif.

Angka kriminalitas disebut menurun, tingkat penyelesaian perkara meningkat, dan sejumlah kasus besar berhasil diungkap.

Namun di balik statistik tampak menenangkan itu, publik masih dihadapkan pada kenyataan pahit: kejahatan brutal, narkoba, dan kasus-kasus viral tetap berulang, seolah menolak benar-benar jinak.

Kapolres Magetan AKBP Raden Erik Bangun Prakasa, dalam jumpa pers di Aula Mapolres Magetan, menjelaskan bahwa sepanjang 2025 tingkat penyelesaian perkara mencapai 87,7 persen, naik tipis 0,7 persen dibanding tahun 2024.

Capaian ini dipresentasikan sebagai bukti efektivitas langkah preventif dan pre-emptif.

Namun ironisnya, jenis kejahatan mendominasi justru perkara paling meresahkan warga: penipuan (24 kasus), pencurian dengan kekerasan (21 kasus), serta pencurian kendaraan bermotor atau curanmor (16 kasus).

*Secara kuantitas, angka kriminalitas memang turun dari 215 kasus pada 2024 menjadi 154 kasus di 2025, atau sekitar 28 persen,”jelas Erik.

Penurunan ini terlihat impresif di atas kertas, tetapi belum sepenuhnya menjawab kegelisahan publik terutama ketika kasus dengan dampak sosial tinggi terus bermunculan.

“Penurunan jumlah perkara ini menunjukkan kegiatan preventif, pre-emptif, serta imbauan kamtibmas berjalan cukup efektif,” ujar Erik.

Kata “cukup” di sini menjadi penting. Sebab sepanjang 2025, Polres Magetan juga disibukkan oleh rentetan kasus viral yang membuat warga bertanya-tanya: Magetan benar-benar aman, atau sekadar tampak aman.

Mulai dari perkelahian antar warga, perampokan minimarket, kekerasan dan eksploitasi seksual terhadap anak, kecelakaan kereta api, hingga pencurian dengan kekerasan terhadap WNA di Karas.

Daftar itu bertambah panjang dengan pembunuhan bayi, pembegalan ATM di Kecamatan Barat, penipuan dan penggelapan korperasi dengan ribuan korban, hingga aksi main hakim sendiri terhadap pencuri yang melibatkan anak di bawah umur sebuah potret buram penegakan hukum di tingkat akar rumput.

Polres memastikan seluruh kasus diproses sesuai hukum yang berlaku.

Namun bagi publik, daftar panjang tersebut menjadi pengingat bahwa pencegahan kerap kalah cepat dibanding keberanian pelaku kejahatan.

Narkoba: Naik Tajam, Pelaku Makin Muda

Di sektor narkotika, ironi justru semakin telanjang. Pengungkapan kasus naik 58 persen, dari 23 kasus pada 2024 menjadi 34 kasus di 2025, dengan tingkat penyelesaian mencapai 88 persen.

Barang bukti sabu seberat 28 gram disebut sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Polres Magetan sebuah “prestasi” yang sekaligus menjadi alarm keras bagi kondisi sosial daerah.

Pelaku didominasi usia 20–30 tahun, kelompok usia produktif yang seharusnya menjadi tulang punggung pembangunan. Fakta ini menegaskan bahwa perang melawan narkoba belum menyentuh akar persoalan, mulai dari lingkungan, ekonomi, hingga kontrol sosial.

Miras, Lalu Lintas, dan Teknologi

Menjelang akhir tahun, Sat Samapta mencatat 64 kasus penyakit masyarakat, turun dibanding tahun sebelumnya.

Namun ironisnya, barang bukti arak jawa justru meningkat menjadi 40,5 liter. Razia boleh rutin, tetapi pasokan tetap mengalir pertanda ada celah yang belum tertutup.

Di sektor lalu lintas, angka kecelakaan menurun 7 persen, dengan korban didominasi usia 16–30 tahun dan jam rawan pada pukul 06.00–12.00 WIB. Program edukasi seperti Police Goes to School terus digencarkan, meski realitas di lapangan menunjukkan generasi muda masih menjadi korban utama.

Dari sisi teknologi, Polres Magetan mendapat dukungan Traffic Management Center (TMC) senilai Rp21 miliar, dilengkapi puluhan kamera CCTV. Infrastruktur kian canggih, namun publik berharap teknologi tak sekadar menjadi etalase mahal, melainkan benar-benar mampu mencegah kejahatan sebelum terjadi.

Statistik vs Rasa Aman

Dengan segala capaian dan catatan tersebut, Polres Magetan menatap 2026 dengan optimisme.

Namun satu hal tak bisa disangkal: angka boleh turun, laporan boleh rapi, tetapi rasa aman warga adalah ujian sesungguhnya.

Di titik itulah, kinerja kepolisian tak lagi diukur dari persentase dan grafik melainkan dari seberapa jarang warga harus cemas saat keluar rumah.

.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *