SKI News
Hutan Jati Sampung Membara! Asap Tutup Jalur Ponorogo–Magetan, Pengendara Nekat Padamkan Api Sendiri

Melawan kobaran api dengan alat seadanya. Sejumlah warga dan pengguna jalan berjibaku memadamkan kebakaran hutan jati di Desa Sampung, Ponorogo, agar api tidak semakin meluas hingga ke badan jalan. Kepulan asap tebal sempat mengganggu arus lalu lintas di jalur alternatif Ponorogo–Magetan.
Suarakumandang.com. BERITA PONOROGO. Kebakaran hebat kembali melanda kawasan hutan lindung milik Perum Perhutani di Desa Sampung, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo, Selasa (21/7/2026) petang.
Kobaran api yang cepat membesar tidak hanya melahap sekitar dua hektare lahan, tetapi juga menutup jalur alternatif penghubung Ponorogo–Magetan dengan kepulan asap tebal yang mengganggu jarak pandang pengendara.
Api membakar kawasan Petak 62 BKPH Sampung KPH Madiun. Kondisi daun jati yang mengering saat musim kemarau, ditambah embusan angin kencang, membuat kobaran api dengan cepat merambat ke semak belukar dan ilalang di sekitar kawasan hutan.
Sejumlah warga dan pengguna jalan berusaha memadamkan api menggunakan peralatan seadanya agar kobaran tidak semakin mendekati badan jalan.
Meski demikian, besarnya api membuat upaya tersebut belum mampu menghentikan laju kebakaran.
“Tadi saya dari arah Magetan mau ke Ponorogo. Jalannya penuh asap dan baunya sangat menyengat. Saya berhenti ikut memadamkan api supaya tidak semakin meluas, karena sampai saat itu belum ada petugas yang datang,” ujar Moh Zainul, salah seorang pengguna jalan.
Kepulan asap pekat sempat menyelimuti ruas jalan alternatif Ponorogo–Magetan sehingga mengurangi jarak pandang pengendara dan meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas. Sejumlah kendaraan terlihat memperlambat laju untuk menghindari bahaya.
Hingga Selasa malam, belum terlihat petugas pemadam maupun pihak Perhutani berada di lokasi untuk melakukan penanganan kebakaran.
Sementara luas area yang terbakar diperkirakan telah mencapai sekitar dua hektare.
Penyebab kebakaran masih belum dapat dipastikan.
Namun, dugaan sementara mengarah pada aktivitas pembakaran lahan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, yang kemudian memicu api merambat ke kawasan hutan saat cuaca kering dan berangin.
Selain merusak tegakan jati, kebakaran juga mengancam kelestarian ekosistem hutan serta berpotensi menurunkan kualitas dan kesuburan tanah apabila tidak segera ditangani.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa memasuki musim kemarau, kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan harus terus ditingkatkan.
Masyarakat juga diimbau tidak melakukan pembakaran terbuka yang dapat memicu kebakaran lebih luas.*…
Jurnalis: Priyam.
