Connect with us

SKI News

Anggaran Miliaran, Rokok Ilegal Masih Joget. Satpol PP-Damkar dan Bea Cukai Tak Berani Sentuh Penjual‘Kebal’ Ini

Published

on

Benny Adrian, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Kabupaten Magetan.

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Pemerintah Kabupaten Magetan kembali menyoroti penanganan rokok ilegal hingga kini lebih banyak menghabiskan anggaran daripada menumpas persoalan.

Faktanya, rokok ilegal masih marak, dan lebih pahit lagi, pemerintah maupun Bea Cukai disebut tak berani menyentuh salah satu penjual rokok ilegal “kebal” tetap berjualan santai tanpa khawatir disentuh operasi.

Padahal operasi telah digelar, sosialisasi digencarkan lewat puluhan media massa dengan kontrak bernilai puluhan juta, serta kolaborasi bersama kepolisian, kejaksaan, dan Bea Cukai terus didengungkan.

Namun di lapangan, kenyataan berbicara jauh lebih lantang. Rokok ilegal masih joget, seperti tak pernah dijamah petugas.

Satpol PP dan Damkar seharusnya menjadi ujung tombak operasi bahkan disebut tak berani menindak salah satu penjual tertentu sudah lama menjadi perbincangan warga.

Entah apa sebabnya, yang jelas keberadaan penjual itu tetap aman sentosa, makin terang-terangan, dan makin disukai kalangan pencinta rokok.

Situasinya bak kembali ke jaman batu: boleh menjual barang tanpa pajak hanyalah “dia dan dia “.

Masyarakat pun tahu dan tak sedikit yang senang karena barang dijual murah dan kualitasnya dianggap tinggi.

Ironisnya, ia bisa terus berjualan karena pemerintah kabupaten Magetan dinilai takut dan sungkan.

Namun di sisi lain, kehadiran penjual “kebal” ini justru menimbulkan kerugian bagi banyak UMKM, terutama toko-toko klontong kecil mengandalkan penjualan rokok resmi atau legal.

Para pencinta rokok berbondong-bondong memilih membeli di tempat sang penjual kebal, meninggalkan toko-toko kecil makin lesu.

Tanpa keberanian aparat menindak semua pelanggar tanpa kecuali, dan tanpa keberanian warga untuk bersuara, rokok ilegal akan tetap menari bebas menari nari.

Sementara anggaran miliaran rupiah habis hanya untuk kegiatan tak menggigit.

Benny Adrian, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Kabupaten Magetan, menekankan perlunya langkah serius.
“Kalau programnya belum tepat, ya evaluasi. Setelah itu lakukan perbaikan-perbaikan,” ujarnya.

Evaluasi itu, tegas Benny, harus melibatkan stakeholder sejak awal, termasuk akademisi yang mampu memberi masukan berbasis data.

“Penanganannya harus holistik. Pemerintah, stakeholder, dan warga harus terlibat sungguhan,” tambahnya.

Jika tidak, tahun depan cerita sama hampir pasti terulang: anggaran habis, hasil tipis, dan pedagang ‘kebal’ tetap tersenyum puas.

Jurnalis:Tim Redaksi.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *