Connect with us

SKI News

Sekolah Rakyat di Ponorogo Masih Cari Siswa SD, Padahal MPLS Segera Mulai

Published

on

Langkah baru dimulai. Calon peserta didik Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 Ponorogo resmi diterima dan mengikuti pembekalan awal menjelang MPLS. Program pendidikan gratis ini diharapkan menjadi jalan lahirnya generasi tangguh dari keluarga yang membutuhkan.

Suarakumandang.com, BERITA PONOROGO. Hitung mundur menuju Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sudah dimulai.

Namun, Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 Ponorogo masih punya pekerjaan rumah. Dari kuota 90 peserta didik yang disiapkan, baru 76 siswa yang dinyatakan lolos seleksi.

Kuota jenjang SMP dan SMA sudah penuh, masing-masing 30 siswa. Sebaliknya, jenjang SD baru terisi 16 siswa dari target 30, sehingga masih tersisa 14 kursi kosong.

Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, mengatakan seluruh siswa yang telah diterima akan memulai kegiatan belajar di Sekolah Rakyat permanen di Kabupaten Madiun.

Langkah ini diambil sembari menunggu pembangunan gedung Sekolah Rakyat di Ponorogo rampung.

“Untuk SD memang masih ada kekurangan karena penerimaan dilakukan melalui proses seleksi. Program ini tidak asal menerima siswa, sehingga kualitas tetap menjadi prioritas,” ujar Lisdyarita.

Ia optimistis para siswa tetap dapat belajar dengan nyaman karena kurikulum yang diterapkan di Madiun sama dengan Sekolah Rakyat di daerah lain.

Pemkab Ponorogo menjadwalkan keberangkatan seluruh siswa pada 14 Juli 2026, bertepatan dengan dimulainya MPLS. Seluruh biaya transportasi, asrama, hingga kebutuhan belajar ditanggung pemerintah.

Di balik angka-angka itu, tersimpan harapan besar dari para calon siswa. Sabrina, salah satu peserta didik yang lolos seleksi, mengaku memilih Sekolah Rakyat karena ingin meringankan beban ekonomi keluarganya.

“Saya ingin sekolah di sini supaya tidak membebani ibu. Saya juga ingin belajar lebih mandiri,” ungkapnya.

Hingga kini, Pemkab Ponorogo masih melakukan penjangkauan dan verifikasi calon siswa untuk mengisi sisa 14 kursi di jenjang SD.

Harapannya, saat bel sekolah pertama berbunyi, seluruh kuota sudah terisi dan kesempatan belajar bisa dinikmati lebih banyak anak dari keluarga yang membutuhkan.**.

Jurnalis: Priyam.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *