Emil Dardak Dan ‘Kanang’ berangkatkan Nilam Ke India

Wagub Jatim Emil Dardak dan Bupati Ngawi Budi Sulistyono berangkatkan ekpor Tanaman Nilam kering ke India di Ngawi ( 27/ 02/2019 )

Suarakumandang.com,BERITA NGAWI. Selain produk kerajinan kayu jati yang lebih dahulu merambah pasar ekspor,  dan beras organik ke Singapura dan Malaysia, kini satu lagi komoditas hasil bumi dari Ngawi yang berhasil tembus memasuki pasar ekspor, yaitu tanaman nilam kering yang diminati negara India.

Adalah , masyarakat di wilayah kecamatan Ngrambe dan Jogorogo melalui sebuah perusahaan eksportir lokal , pertama kali melakukan itu setelah mendapatkan order dari negara India untuk mengirim sebanyak 6 ton tanaman nilam pada periode pemberangkatan pertama.

Tanaman yang di kenal masyarakat berupa tanaman perdu ini , ternyata tumbuh subur di dua wilayah tersebut dan memiliki nilai jual yang menjajikan di pasar ekspor, terutama negara yang membutuhkan minyak atsiri sebagai bahan dasar parfum, kosmetik dan insektisida. Saat ini di India daun Nilam dengan kualitas yang dibutuhkan mencapai harga1,65 dolas AS atau setara Rp 23.142 / kg.

Pemkab Ngawi melaui Dinas Pertanian dan Peternakan, secara resmi memastikan komoditas tumbuhan Nilam menjadi salah satu andalan kabupaten ini dalam transaksi ekpor berbasis pemberdayaan warga terutama para milenial untuk meningkatkan status bisnisnya dari domestik ke pangsa internasional.

Momen pelepasan ekspor perdana tanaman nilam asal Ngawi ini dilakukan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, Bupati Ngawi Budi ‘ Kanang’ Sulistyono dan Kepala Badan Karantina Kementerian Pertanian RI, Ali Jamil, di Ngawi ( 27/2) yang lalu.

Dalam pernyataanya Pemerintahan Provinsi bersama Pemerintahan Daerah akan mencari terobosan bagaimana agar pengembangan budidaya  komoditas nilam ini bisa terjaga kualitas ekpornya, yaitu  salah satunya pengetahuan tentang standarisasi tidak hanya diketahui oleh level hilir ( pengepul dan ekportir ) namun juga pada tingkatan petani.

“ Yang ingin kita cari bagaimana agar hasil tertinggi tidak hanya dinikmati oleh satu atau dua orang pada level ekportir saja namun juga menyebar ke level hulu yaitu para penanam atau petani, salah satu caranya mendorong para penisnis ini untuk mulai turun kehulu terutama pebisnis milenial juga harus mengetahui cara penanaman dengan mengoptimalkan peran UPT dan Bakorwil pertanian antara para ekportir dan petani, sehingga standarisasi yang disyaratkan negara tujuan ekpor dapat terjaga” terang Emil Dardak.

Pernyataan Emil tersebut menjawab kekuatiran Bupati Ngawi Budi Sulistyono akan nasib para petani yang terlanjur susah melakukan penanaman tapi ternyata tidak memenuhi standarisasi yang dibutuhkan.

“Hal yang mengkuatirkan bagi para petani adalah ketika sudah susah payah menanam dan membudidayakan , namun setelah panen para ekportir pergi dengan dalih hasil panen tidak memenuhi stadar dan tidak laku jual”. Kata Budi Sulistyono dihadapan para ekportir.

Apalagi gairah milenial Ngawi untuk berbisnis dengan orientasi ekspor seiring kemajuan ITE terutama dibidang pertanian sangat tinggi. Kemudahan Regulasi dan informasi atau akses pasar  ekspor sangat dibutuhkan dari pemerintah pusat dalam hal ini kemetrian pertanian, karena bagi Pemkab Ngawi kedepanya tidak hanya komoditas Nilam saja, namun potensi dari komoditas lain juga akan disiapkan.

“ Kita juga mengajak para ekportir untuk mengetahui potensi lain yang ada di Ngawi selain tumbuhan Nilam, misalnya beberapa jenis beras organik yang lebih dahulu sudah terekspor, namun masih butuh pengembangan pangsa pasar yang lebih luas sehingga informasi standarisasi masing masing negara tujuan penting untuk diketahui.” Kata Budi lebih lanjut.

Menanggapi hal tersebut Kementerian Pertanian RI melalui Badan Karantina Pertanian kini tengah mengembangkan program Agro Gemilang yang bertujuan melakukan ekselarasi antara hulu dan stekholder untuk bersama sama melakukan perbaikan kualitas barang atau modal ekspor, sehingga standarisasi yang dibutuhkan negara tujuan dapat dengan terpenuhi.

Salah satu standarisasi yang dimaksud menurut Kepala Badan Karantina Pertanian , Ali Jamil, adalah sertifikat sehat dalam bentuk E-Certificate , yang kini gampang didapat oleh para ekportir terutama ekportir pemula seperti pebisnis milenial untuk membantu pemasaran produk yang hendak di ekspor.

“Program Ayo Galakan Ekspor Generasi Milenial Bangsa atau Agro Gemilang bertujuan melakukan ekselerasi agar munculnya ekportir baru dari para generasi milenial, yaitu berupa kemudahan demi memenuhi standarisasi yang dibutuhkan oleh negara tujuan seperti sertifikat sehat dalam bentuk E-Certificate, dan kini hal itu mudah didapat”. jelas  Ali Jamil .

Program Agro Gemilang diluncurkan oleh kementerian pertanian di Bogor pertengahan Januari lalu dengan tujuan menyiapkan dan mendorong para petani muda untuk memasuki pasar ekspor alias go international.  Ahmad.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.