Connect with us

SKI News

Lagi, SDN di Ponorogo Gagal Dapat Murid Baru, Alarm Dunia Pendidikan Makin Nyaring

Published

on

Sunyi di awal tahun ajaran. Ruang kelas 1 SDN Nailan, Kecamatan Slahung, Ponorogo, tampak kosong tanpa kehadiran satu pun siswa baru. Kondisi ini menjadi tahun kedua berturut-turut sekolah tersebut gagal memperoleh peserta didik baru.

Suarakumandang.com, BERITA PONOROGO.  Tahun ajaran baru yang biasanya identik dengan riuh tawa siswa justru berubah menjadi potret sunyi di SD Negeri Nailan, Desa Nailan, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo.

Hingga hari pertama masuk sekolah, Senin (13/7/2026), sekolah tersebut kembali tidak memperoleh satu pun siswa baru. Ironisnya, kondisi ini terjadi untuk tahun kedua secara berturut-turut.

Berbagai strategi sebenarnya telah dilakukan pihak sekolah demi menarik minat masyarakat.

Mulai dari mendatangi rumah calon siswa jauh sebelum penerimaan peserta didik baru, memberikan seragam gratis, hingga melakukan sosialisasi ke taman kanak-kanak.

Namun, semua upaya itu belum mampu memecah kebuntuan.

Akibatnya, ruang kelas 1 kembali kosong tanpa penghuni. Bahkan kelas 2 juga tidak memiliki siswa, sehingga aktivitas belajar hanya berlangsung di kelas 3 hingga kelas 6.

Seorang siswa kelas 6, Bintoro Adi Dikusumo, mengaku sedih melihat jumlah teman sekolahnya terus berkurang setiap tahun.

“Sedih, karena tidak ada teman lagi,” ucapnya.

Berdasarkan data Pemerintah Desa Nailan, total siswa yang masih belajar di SDN Nailan kini hanya tersisa 13 anak.

Rinciannya, kelas 3 sebanyak tiga siswa, kelas 4 hanya satu siswa, kelas 5 dua siswa, dan kelas 6 sebanyak tujuh siswa.

Kepala Desa Nailan, Nurhadi, menjelaskan menurunnya jumlah siswa dipengaruhi beberapa faktor.

Selain jumlah anak usia sekolah yang semakin sedikit, masyarakat kini lebih banyak memilih sekolah berbasis agama maupun madrasah.

Menurutnya, posisi SDN Nailan juga diapit sejumlah lembaga pendidikan lain.

Wilayah sekitar telah memiliki banyak pilihan sekolah, mulai dari pondok pesantren, madrasah ibtidaiyah negeri, hingga sekolah swasta yang dinilai lebih diminati masyarakat.

“Fasilitas sebenarnya sudah hampir sama. Tetapi sekarang yang banyak dicari masyarakat adalah pendidikan dasar yang memiliki penguatan pendidikan agama. Karena itu banyak orang tua memilih menyekolahkan anaknya ke MIN maupun sekolah berbasis pesantren,” terang Nurhadi.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN Nailan, Faridatul Zahro, belum memberikan keterangan kepada wartawan saat dimintai konfirmasi.

Fenomena SD tanpa murid baru ini menjadi sinyal serius bagi dunia pendidikan di Ponorogo.

Persaingan antarsekolah, perubahan pilihan masyarakat, serta menurunnya jumlah anak usia sekolah menjadi tantangan yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.

Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa solusi yang tepat, bukan tidak mungkin sekolah-sekolah dengan jumlah murid minim akan semakin sulit bertahan di masa mendatang.**..

Jurnalis: Priyam.