Connect with us

SKI News

TPA Overload, Bunda Nanik Bilang Magetan Darurat Sampah: “Jangan Cuma Buang, Harus Kelola

Published

on

Bupati Magetan Nanik Endang Rusminiarti

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Kabupaten Magetan tengah menghadapi persoalan serius terkait pengelolaan sampah. Bupati Magetan, Endang Nanik Rusminiarti, menyatakan kondisi daerahnya saat ini masuk kategori darurat sampah setelah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) milik pemerintah daerah mengalami overload atau melebihi kapasitas tampung.

Pernyataan tersebut disampaikan Bunda Nanik saat membuka Festival Bamboo Chapter 3 dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di halaman GOR Ki Mageti, Kamis (12/6/2026).

“Hari ini Kabupaten Magetan sedang dalam kondisi darurat sampah. TPA kita sudah overload. Ini bukan ancaman masa depan, tetapi kondisi yang sedang kita hadapi sekarang,” tegasnya.

Menurut Bunda Nanik, persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah daerah.

Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat mulai dari tingkat rumah tangga hingga pemerintah desa untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA.

Karena itu, ia meminta seluruh camat, lurah, dan kepala desa lebih serius menjalankan Instruksi Bupati Magetan Nomor 1 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat.

“Selesaikan sampah dari sumbernya. Ini bukan hanya kewajiban administratif, tetapi tanggung jawab moral kita bersama,” ujar Bupati.

Bunda Nanik menjelaskan, dunia saat ini sedang menghadapi tiga krisis lingkungan sekaligus, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi lingkungan.

Sampah plastik menjadi salah satu faktor yang memperparah ketiga persoalan tersebut.

Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci penting dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mengurangi dampak perubahan iklim.

Selain fokus pada pengelolaan sampah, Pemerintah Kabupaten Magetan juga terus mengembangkan Eco Bamboo Park atau Kebun Raya Bambu sebagai upaya memperluas ruang terbuka hijau dan meningkatkan penyerapan karbon.

Keberadaan kawasan tersebut diharapkan mampu membantu menjaga kualitas udara, air, dan tanah, sekaligus menjadi bagian dari komitmen daerah dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Festival Bamboo yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ketiga juga menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, UMKM, komunitas lingkungan, dan masyarakat dalam mendorong pembangunan yang berkelanjutan.

Bunda Nanik menegaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh berjalan sendiri tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan.

“Pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan harus berjalan seimbang,” katanya.

Melalui kegiatan tersebut, pemerintah berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan semakin meningkat.

Selain menjadi sarana edukasi, Festival Bamboo juga diharapkan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat melalui keterlibatan UMKM dan pelaku usaha lokal.

Festival Bamboo Chapter 3 resmi dibuka oleh Bupati Magetan dan akan berlangsung mulai 12 hingga 21 Juni 2026.

Sampah memang terlihat sepele saat dibuang. Tapi ketika TPA sudah sesak, persoalannya tidak lagi sederhana.

Kini saatnya warga Magetan tidak hanya pintar membuang sampah, tetapi juga mulai terbiasa mengelolanya dari rumah masing-masing.**

Jurnalis: Tim Redaksi

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *