SKI News

Sambut 1 Muharam, Warga Ngebel Larung Tumpeng ke Telaga Hasil Bumi Jadi Rebutan Demi Berkah

Published

on

Tumpeng Agung diangkut menggunakan rakit menuju tengah Telaga Ngebel dalam prosesi Larung Risalah Doa menyambut 1 Muharam 1448 Hijriah. Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur masyarakat lereng Gunung Wilis atas hasil pertanian dan perikanan yang melimpah sepanjang tahun.

Suarakumandang.com, BERITA PONOROGO. Suasana Telaga Ngebel, Ponorogo, mendadak ramai saat ratusan warga memadati kawasan wisata tersebut untuk mengikuti tradisi Larung Risalah Doa dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah.

Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun ini kembali menjadi magnet warga lereng Gunung Wilis maupun pengunjung dari luar daerah.

Tak hanya menyaksikan prosesi sakral, warga juga berburu berkah dengan berebut tumpeng berisi hasil bumi yang telah didoakan.

Sebanyak 30 tumpeng disiapkan dalam prosesi tersebut. Sebanyak 29 tumpeng purak berisi aneka hasil pertanian, buah-buahan, sayuran, hingga produk khas Ngebel diperebutkan masyarakat.

Sedangkan satu tumpeng agung berukuran besar dilarung ke tengah Telaga Ngebel sebagai puncak ritual.

Sebelum prosesi larung, seluruh tumpeng terlebih dahulu dikirab mengelilingi Telaga Ngebel sejauh kurang lebih empat kilometer.

Warga dan wisatawan tampak antusias mengikuti jalannya kirab yang berlangsung meriah namun tetap khidmat.

Puncak acara terjadi saat tumpeng purak mulai dibagikan kepada masyarakat. Dalam hitungan detik, warga langsung berebut hasil bumi yang dipercaya membawa berkah setelah melalui prosesi doa bersama.

“Sudah datang dari pagi. Hampir empat jam menunggu. Senang sekali akhirnya bisa mendapatkan timun dari tumpeng. Nanti dimakan bersama keluarga supaya semua ikut mendapatkan berkah,” ujar Suparmi, warga Madiun.

Sementara itu, tumpeng agung yang terbuat dari beras merah dan dilengkapi kepala kambing dibawa menggunakan rakit menuju tengah telaga sebelum dilarung.

Prosesi tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil pertanian dan perikanan yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga sekitar Telaga Ngebel.

Sesepuh desa, Hartono, menjelaskan bahwa Larung Risalah Doa bukan sekadar tradisi budaya, melainkan juga bentuk doa dan harapan masyarakat memasuki tahun baru Islam.

“Ini adalah doa dalam bentuk kegiatan dan sedekah kepada alam. Harapannya melarung semua keburukan, semua kesalahan masa lalu, dan memohon kepada Tuhan agar diberikan hasil panen yang melimpah serta kehidupan yang lebih baik,” katanya.

Bagi masyarakat Ngebel, tradisi ini bukan hanya tentang tumpeng atau hasil bumi.

Lebih dari itu, Larung Risalah Doa menjadi cara menjaga warisan budaya leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Di sisi lain, tradisi yang rutin digelar setiap 1 Muharam tersebut juga menjadi daya tarik wisata yang mampu mendatangkan ribuan pengunjung ke kawasan Telaga Ngebel.

Perpaduan antara nilai religius, budaya, dan panorama alam membuat tradisi Larung Risalah Doa tetap menjadi agenda yang selalu dinanti masyarakat setiap datangnya Tahun Baru Islam.**

Jurnalis: Priyam.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version