SKI News

Jasa Pengambilan Raport, Satu Orang Bisa Ambil Dua Sekaligus

Published

on

Cahyo, pengemudi ojek online, menerima raport siswa di dalam ruang kelas saat mewakili wali murid yang berhalangan hadir dalam pembagian raport semester di salah satu sekolah di Ponorogo, Kamis (19/6/2026). Kesibukan pekerjaan, kondisi kesehatan, hingga bekerja di luar negeri menjadi alasan sebagian orang tua menggunakan jasa perwakilan untuk mengambil raport anak. (Foto: Priya/suarakumandang.com)

Suarakumandang.com, BERITA PONOROGO. Hari pembagian raport selalu jadi momen yang bikin deg-degan. Ada siswa yang menunggu dengan penuh percaya diri, ada yang harap-harap cemas, bahkan ada yang memilih banyak berdoa sebelum amplop raport dibuka.

Namun di balik suasana menegangkan itu, muncul fenomena yang cukup menarik.

Sejumlah orang tua yang berhalangan hadir ternyata memilih menggunakan jasa perwakilan untuk mengambil raport anak mereka di sekolah.

Alasannya beragam. Mulai dari kesibukan pekerjaan, kondisi kesehatan, hingga sedang bekerja di luar negeri sebagai buruh migran.

Fenomena ini dialami Cahyo (38), seorang pengemudi ojek online di Ponorogo.

Pada musim pembagian raport tahun ini, ia mengaku mendapat dua permintaan sekaligus untuk mewakili wali murid mengambil raport di dua sekolah berbeda.

“Hari ini ada dua sekolah, SMP dan SMA. Satu karena orang tuanya kontrol di Madiun, satu lagi karena orang tuanya bekerja di luar negeri,” kata Cahyo saat ditemui, Kamis (19/6/2026).

Bagi Cahyo, tugas menjadi perwakilan wali murid bukan pengalaman baru.

Ia mengaku sudah menjalani aktivitas serupa sejak tahun lalu.

“Tahun kemarin juga pernah. Waktu itu karena orang tuanya sedang berada di luar kota. Anak yang saya wakili juga tidak ada masalah di sekolah. Kalau soal biaya, saya tidak pernah mematok tarif. Seikhlasnya saja,” ujarnya.

Menurut Cahyo, kepercayaan yang diberikan orang tua menjadi tanggung jawab tersendiri karena raport berisi informasi penting mengenai perkembangan belajar siswa selama satu semester.

Sementara itu, Kusnandarti, wali kelas salah satu SMA di Ponorogo, mengaku belum pernah menemukan kasus pengambilan raport menggunakan jasa orang lain secara khusus.

Namun, ia membenarkan bahwa ada wali murid yang mewakilkan pengambilan raport kepada pihak lain.

Meski demikian, sekolah tetap menerapkan sejumlah pertimbangan terkait privasi dan penyampaian informasi akademik siswa.

“Memang ada yang mengambil raport bukan orang tuanya, tetapi kalau di sini saya pastikan harus memiliki hubungan keluarga. Karena ada informasi yang bersifat pribadi yang perlu disampaikan,” tandasnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah padatnya aktivitas masyarakat, berbagai cara dilakukan agar urusan pendidikan anak tetap berjalan.

Yang terpenting, komunikasi antara sekolah dan keluarga tetap terjaga sehingga informasi perkembangan siswa dapat tersampaikan dengan baik. **…

Jurnalis: Priya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version