SKI feature

Harga Kedelai Nanjak, Perajin Tahu Tinalan Kediri Terpaksa Rem Produksi

Published

on

Perajin tahu di Tinalan, Kota Kediri, mengolah kedelai menjadi tahu di tengah kenaikan harga bahan baku yang berdampak pada penurunan produksi dan meningkatnya biaya usaha. Selasa (9/6/2026).

suarakumandang.com, BERITA KEDIRI. Kabar kurang sedap datang dari sentra tahu Tinalan, Kota Kediri. Para perajin tahu tengah menghadapi tekanan berat setelah harga kedelai, bahan baku utama produksi, terus merangkak naik dalam beberapa bulan terakhir.

Harga kedelai impor yang sebelumnya berada di kisaran Rp9.000 per kilogram kini menembus Rp10.800 per kilogram. Kenaikan hampir Rp2.000 per kilogram itu membuat biaya produksi membengkak dan memaksa perajin mengambil langkah bertahan.

Menurut para perajin, lonjakan harga dipengaruhi fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Pasalnya, sebagian besar kedelai yang digunakan masih bergantung pada pasokan impor.

Dampaknya langsung terasa di ruang produksi. Untuk mengurangi risiko kerugian, sejumlah perajin memilih menekan penggunaan bahan baku. Akibatnya, jumlah tahu yang dihasilkan ikut menyusut cukup signifikan.

“Kalau dulu sehari bisa masak lima kali dan menghasilkan sekitar 1.000 potong tahu. Sekarang cuma tiga kali masak, hasilnya sekitar 600 potong,” ujar Tri Pramulaksono, salah satu perajin tahu di Tinalan, Selasa (9/6/2026).

Tri menjelaskan, setiap kali produksi biasanya membutuhkan sekitar 8 kilogram kedelai.

Kondisi penurunan produksi tersebut telah berlangsung selama kurang lebih dua bulan terakhir.

Tak hanya memangkas produksi, perajin juga terpaksa menyesuaikan harga jual. Harga tahu yang sebelumnya Rp2.500 per potong kini naik menjadi Rp3.000 per potong.

Namun, keputusan itu membawa konsekuensi tersendiri. Sejumlah konsumen mulai mengurangi pembelian bahkan beralih ke penjual lain yang menawarkan harga lebih rendah.

“Ya berpengaruh. Kadang pembeli mencari penjual lain yang lebih murah. Semua sekarang bersaing,” kata Tri.

Situasi tersebut membuat margin keuntungan para perajin semakin menipis. Di satu sisi biaya produksi terus naik, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.

Di tengah kondisi yang serba sulit, para perajin berharap pemerintah dapat membantu menstabilkan harga kedelai atau menghadirkan program yang mampu meringankan beban pelaku usaha kecil.

Tri menilai keberadaan kedelai subsidi bisa menjadi salah satu solusi untuk menjaga keberlangsungan usaha tahu yang telah menjadi mata pencaharian warga Tinalan secara turun-temurun.

“Harapannya pemerintah bisa membantu mengatasi persoalan ini karena bahan baku impor memang cukup sulit dikendalikan,” ungkapnya.

Sembari menunggu adanya kebijakan yang dapat membantu sektor usaha kecil, para perajin tahu di Tinalan memilih tetap bertahan.

Meski tantangan semakin berat, mereka berharap usaha yang telah diwariskan dari generasi ke generasi itu tetap bisa terus berjalan.**

Jurnalis: Muktar.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version