SKI News
Dolar Makin Ngegas, Harga Oli dan Onderdil Motor di Ngawi Ikut ‘Gaspol’ Naik
Pemilik kendaraan sedang melakukan penggantian oli di sebuah bengkel di Kabupaten Ngawi. Kenaikan harga oli yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir mulai dirasakan masyarakat dan pelaku usaha, seiring meningkatnya biaya perawatan kendaraan bermotor.
Suarakumandang.com, BERITA NGAWI. Dompet para pemilik sepeda motor di Kabupaten Ngawi tampaknya harus siap bernapas lebih dalam.
Pasalnya, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang dalam beberapa waktu terakhir terus menguat, mulai berdampak pada harga oli mesin hingga berbagai onderdil kendaraan bermotor.
Pantauan di sejumlah bengkel menunjukkan adanya penyesuaian harga pada berbagai kebutuhan perawatan motor.
Kenaikan tersebut dikeluhkan baik oleh pelaku usaha bengkel maupun para konsumen yang sehari-hari mengandalkan sepeda motor untuk bekerja.
Sabna Novitasari, admin salah satu bengkel sepeda motor di Ngawi, membenarkan bahwa harga oli dan suku cadang mengalami kenaikan cukup signifikan dibanding beberapa bulan sebelumnya.
Menurutnya, harga oli mesin rata-rata naik sekitar 20 hingga 30 persen. Selain oli, sejumlah komponen seperti busi, aki, hingga ban juga ikut mengalami kenaikan harga.
“Banyak pelanggan yang akhirnya menunda servis atau penggantian komponen yang dianggap belum terlalu mendesak,” ujar Sabna.
Data di lapangan menunjukkan, oli standar yang sebelumnya dijual sekitar Rp30 ribuan kini berada di kisaran Rp38 ribu per botol.
Sementara oli kelas menengah yang sebelumnya sekitar Rp52 ribu kini mencapai Rp75 ribu. Untuk oli premium, harga naik dari sekitar Rp95 ribu menjadi Rp110 ribu.
Tak hanya itu, harga ban luar jenis tubeless yang sebelumnya berkisar Rp290 ribu kini mencapai sekitar Rp320 ribu.
Sedangkan harga busi yang sebelumnya Rp20 ribu naik menjadi sekitar Rp25 ribu per unit.
Kondisi tersebut turut dirasakan Mustofa, pedagang roti keliling di Ngawi yang setiap hari mengandalkan sepeda motor untuk berjualan.
Menurutnya, kenaikan harga oli dan onderdil membuat biaya operasional semakin bertambah.
Terlebih kendaraan yang digunakannya sudah berusia cukup lama sehingga membutuhkan perawatan lebih rutin.
“Kalau harga onderdil dan oli terus naik, biaya perawatan motor juga ikut membengkak,” ungkapnya.
Kenaikan harga kebutuhan otomotif ini menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi aktivitas masyarakat yang menggantungkan mobilitasnya pada kendaraan roda dua.
Sejumlah pelaku usaha berharap kondisi nilai tukar rupiah dapat lebih stabil sehingga harga kebutuhan otomotif di pasaran kembali terkendali.
“Motor boleh tua, tapi semangat cari rezeki tetap muda. Sayangnya, saat dolar makin tinggi, biaya merawat kendaraan juga ikut bikin kantong deg-degan.” *…
Jurnalis: Ahmad Hakimin.