SKI News

Sungai Tenang, Warga Lengah, Nyawa Melayang” BPBD Magetan Peringatan Keras Usai Remaja Tenggelam di Kedung Ceplok

Published

on

Warga mengevakuasi jenazah R.D. dari aliran sungai—pemandangan pilu yang kembali mengingatkan kita bahwa keselamatan bukan sekadar takdir. Saat bahaya selalu mengintai, kesiapsiagaan bukan pilihan, tapi keharusan.

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Kedung Ceplok, Lembeyan Kulon, kembali menagih korban masih remaja asal Desa Pragak, terseret pusaran air setelah terpeleset saat pulang memancing.

Tubuhnya ditemukan Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan dalam keadaan meninggal dunia.

Dan kali ini, BPBD tidak sekadar bicara mereka meledakkan peringatan keras untuk masyarakat.

“Air Tenang Itu Bukan Sahabat. Itu Pembunuh Disangka Jinak.”

Dalam pernyataan paling blak-blakan tahun ini, Eka Wahyudi, Bagian Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Magetan, menegaskan bahwa tragedi ini bukan cuma soal musibah, tetapi soal kebiasaan warga terlalu percaya diri.

“Air kelihatannya jinak, tapi di bawahnya ada roller hidrolik menyeret siapa pun. Banyak warga merasa paham sungai karena sering lewat. Itu keliru. sering justru paling lengah,” tegasnya.

Kebiasaan Turun-Temurun Mematikan

Eka menyorot pola klasik tak pernah berubah:
anak-anak pergi memancing tanpa pengawasan, warga menganggap sungai itu “tempat main”, dan bahaya dianggap kecil hanya karena sering dilihat.

“Dari kecil terbiasa di sungai, jadi merasa aman. Padahal air tidak pernah berubah berganti itu korban, bukan arusnya,” ujarnya tajam.

Warga Sering Lihat Sungai, Tapi Tidak Paham Bahaya

Lebih pedas lagi, Eka menyebut bahwa banyak warga nongkrong di sungai bertahun-tahun tetapi tidak memahami karakter arus, tidak mengerti kedalaman kedung, dan tidak tahu bagaimana menolong korban tenggelam.

“Kita sering sok berani, tapi kosong pengetahuan. Kombinasi yang sangat berbahaya,” katanya.

BPBD: “Kalau Budaya Abai Ini Tidak Dihentikan, Sungai Akan Terus Minta Tumbal.”

Dalam nada lebih keras dari biasanya, Eka mengingatkan bahwa tragedi seperti ini bisa dicegah jika warga berhenti meremehkan potensi bahaya.

“Kita terlalu sering mengatakan ‘sudah biasa’. Tapi sungai tidak peduli siapa Anda. Kalau Anda lengah, itu cukup untuk membuat Anda jadi korban. Kalau budaya abai ini tidak diubah, korban berikutnya tinggal menunggu waktu,” tegasnya.

BPBD mengimbau warga memperketat pengawasan terhadap anak-anak dan remaja, memahami risiko arus air, serta segera melapor jika melihat kondisi berbahaya.

“Sungai tidak pernah berubah. harus berubah adalah cara kita memperlakukannya,”pungkasnya

Jurnalis: Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version