SKI News

Seleksi Paskibraka Magetan Disorot: Kuota “Melebar”, Transparansi Dipertanyakan, Panitia Paparkan Mekanisme

Published

on

Kepala Bidang Ideologi, Wawasan Kebangsaan, serta Ketahanan Ekonomi, Sosial, Budaya, dan Agama Bakesbangpol Kabupaten Magetan, Sari Puspitaningrum

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Proses seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Magetan, Jawa Timur, kembali menjadi sorotan publik.

Sejumlah dugaan ketidakwajaran mencuat, mulai dari isu penambahan kuota hingga transparansi yang dinilai belum optimal.

Di lapangan, beredar informasi bahwa jumlah peserta yang awalnya dibatasi maksimal 10 orang per sekolah terkesan bertambah.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan dari peserta maupun pihak sekolah terkait konsistensi aturan dalam proses seleksi.

Seorang sumber yang enggan disebutkan identitasnya mengungkapkan adanya sejumlah kejanggalan selama tahapan seleksi berlangsung.

Ia menyebut terdapat sekolah yang mengirim peserta melebihi batas, dan sebagian besar peserta yang dinyatakan lolos justru berasal dari sekolah tersebut.

“Ada peserta yang secara kemampuan dinilai belum memenuhi standar tetapi tetap lolos. Sementara peserta lain dengan hasil lebih baik justru tidak lolos,” ujarnya.

Selain hasil seleksi, aspek teknis juga menjadi sorotan. Sejumlah peserta mengaku tidak menerima informasi detail sejak awal, termasuk terkait materi dan ketentuan seleksi yang baru disampaikan saat technical meeting.

Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan persepsi kurangnya keterbukaan.

Isu lain yang turut berkembang adalah dugaan adanya faktor kedekatan dalam penentuan hasil seleksi.

Meski belum terkonfirmasi, informasi tersebut memicu perhatian publik terhadap integritas proses yang berjalan.

Sementara itu, Kepala Bidang Ideologi, Wawasan Kebangsaan, serta Ketahanan Ekonomi, Sosial, Budaya, dan Agama Bakesbangpol Kabupaten Magetan, Sari Puspitaningrum, menegaskan bahwa proses seleksi telah dilaksanakan secara bertahap dan terstruktur.

Menurutnya, seleksi diawali dengan koordinasi melalui sistem terintegrasi yang melibatkan pendamping dari masing-masing sekolah. Tahapan awal dimulai dari seleksi administrasi.

Dijelaskan, peserta yang lolos administrasi melanjutkan ke Tes Ujian Wawasan Kebangsaan (UTWK) yang dilaksanakan di sekolah masing-masing dengan pengawasan dari pihak panitia.

Selanjutnya, peserta menjalani tes kesehatan dengan sistem gugur. Tahapan berikutnya meliputi seleksi parade, Peraturan Baris Berbaris (PBB), kesenian, hingga penilaian kepribadian.

“Seluruh tahapan menggunakan sistem gugur, mulai dari administrasi, UTWK, kesehatan, hingga parade,” tegas Sari, Senin, (12/4/2026).

Dari total 118 peserta yang lolos hingga tahap akhir, akan dipilih 74 orang sebagai anggota Paskibraka tahun 2026.

Dari jumlah tersebut, tiga pasang peserta terbaik akan mewakili ke tingkat Provinsi Jawa Timur.

Sari juga menjelaskan bahwa setiap sekolah memiliki kuota maksimal 10 peserta yang direkomendasikan.

Namun, terdapat peserta yang mendaftar secara mandiri dengan membawa rekomendasi.

“Seluruh peserta, baik dari jalur sekolah maupun mandiri, tetap diproses dengan mekanisme yang sama tanpa perlakuan khusus,” jelas Sari.

Ia mencontohkan, dari satu sekolah dengan 16 pendaftar, yang diterima tetap sekitar 10 orang.

Sementara sekolah lain terdapat yang meloloskan antara 6 hingga 8 peserta.

Dalam proses seleksi, sejumlah kriteria menjadi penilaian utama, di antaranya tinggi badan minimal (165 cm untuk putri dan 170 cm untuk putra), berat badan proporsional, serta kondisi fisik secara keseluruhan.

Selain itu, aspek penampilan, kekompakan, dan kondisi kesehatan seperti bentuk kaki dan kulit juga menjadi pertimbangan, mengingat aktivitas Paskibraka dilakukan di luar ruangan dengan intensitas tinggi.

Dari total 18 kecamatan di Kabupaten Magetan, sebanyak 13 kecamatan telah terwakili dalam seleksi.

Sementara lima kecamatan lainnya belum memiliki sekolah tingkat SMA/MA/SMK.

Meski panitia telah memaparkan mekanisme seleksi, sorotan publik belum sepenuhnya mereda.

Transparansi dan akuntabilitas dinilai tetap menjadi aspek penting yang perlu diperkuat guna menjaga kepercayaan masyarakat.

Di tengah upaya menjaring putra-putri terbaik daerah, publik berharap proses seleksi dapat berjalan objektif, terbuka, dan profesional, sehingga hasil yang ditetapkan benar-benar mencerminkan kualitas peserta yang terpilih.

Jurnalis: Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version