SKI News
Bukan Sekadar Bagi Telur , Program Orang Tua Asuh di Plaosan Genjot Pencegahan Stunting
Orang tua asuh bersama tim dari Kecamatan Plaosan menyerahkan bantuan tambahan gizi kepada anak asuh balita risiko stunting dalam program pencegahan stunting di Kabupaten Magetan.
Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Pemerintah Kabupaten Magetan terus menggeber program pencegahan stunting melalui gerakan Orang Tua Asuh bagi balita berisiko stunting di Kecamatan Plaosan. Program ini bukan sekadar membagikan telur atau susu, tetapi menjadi langkah pendampingan gizi secara langsung selama tiga bulan penuh.
Camat Plaosan, Ayudya, mengatakan program tersebut melibatkan kepala OPD, camat, hingga kepala puskesmas sebagai orang tua asuh bagi anak-anak yang masuk kategori risiko stunting.
“Program ini bertujuan mencegah anak menjadi stunting. Kepala OPD dan OPD menjadi orang tua asuh bagi balita risiko stunting dengan memberikan tambahan gizi selama tiga bulan,” ujarnya.
Penyaluran bantuan dilakukan setiap 10 hari sekali. Para orang tua asuh diharapkan datang langsung ke rumah anak asuh untuk memantau perkembangan sekaligus memberikan makanan tambahan bergizi.
“Harapannya selama tiga bulan anak-anak ini tumbuh semakin sehat dan tidak menjadi stunting,” katanya.
Di Kecamatan Plaosan terdapat enam orang tua asuh dari sejumlah OPD dan instansi dengan total tujuh anak asuh dalam program Anting Emas 2.0. Data penerima dan orang tua asuh tersebut yakni:
- Jaya Raffaza Lintang Artanabil, warga Pacalan, diasuh Sekda Magetan.
- Banyu Biru Samudra, warga Pacalan, diasuh Kepala Puskesmas Plaosan.
- Muhammad Sholeh, warga Sarangan, diasuh Camat Plaosan.
- Andini Tri Rahmawati, warga Buluharjo, diasuh Kepala Dinas Perkim.
- Rey Sakha Devanka Khalvano, warga Randugede, diasuh Dinas Perkim.
- Clarisa Shidqia Humaira, warga Randugede, diasuh Kepala Dinas PPKBP3A.
- Defandra Alif R, warga Bogoarum, diasuh Kepala Puskesmas Sumberagung.
Makanan tambahan yang diberikan difokuskan pada kebutuhan protein hewani seperti telur, susu, dan olahan ikan. Namun bantuan disesuaikan dengan kondisi keluarga dan kebutuhan kesehatan masing-masing anak.
Ayudya menjelaskan, pihaknya sengaja memilih jenis makanan yang praktis dan tahan lama karena tidak semua keluarga memiliki fasilitas penyimpanan memadai seperti kulkas.
“Untuk olahan ikan kami pilih abon. Itu juga bergantian, ada abon ikan, abon ayam, dan abon sapi supaya anak tidak bosan,” jelasnya.
Jenis telur yang diberikan juga dibuat bervariasi mulai telur kampung, telur puyuh, hingga telur bebek. Sementara susu disesuaikan dengan rekomendasi ahli gizi agar tepat sasaran bagi tumbuh kembang anak.
Penyaluran perdana program dilakukan pada 18 Mei lalu dengan sistem kunjungan langsung ke rumah anak asuh secara bersama-sama oleh seluruh orang tua asuh.
Menariknya, program ini juga ikut menggerakkan ekonomi warga lokal. Sejumlah bahan makanan seperti telur kampung, telur puyuh, hingga telur bebek dibeli dari masyarakat sekitar Plaosan.
Pemerintah berharap program tersebut mampu menekan angka stunting di Magetan sekaligus mempersiapkan generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045.
“Harapan kami Magetan bisa bebas stunting atau minimal angka stunting terus turun sehingga ke depan siap menghadapi Indonesia Emas 2045,” pungkas Ayudya.
Nurnalis: Cahyo Nugroho.