SKI News

Waduk Bendo Ponorogo Surut, Lahan Kering Disulap Jadi Ladang Rezeki Warga

Published

on

Warga memanen hasil pertanian dari lahan bekas dasar Waduk Bendo, Desa Ngadirojo, Kecamatan Sooko, Ponorogo. Saat air surut, lahan dimanfaatkan warga untuk menanam jagung dan kacang tanah sebagai sumber tambahan penghasilan.

Suarakumandang.com, BERITA PONOROGO . Waduk Bendo di Desa Ngadirojo, Kecamatan Sooko, Ponorogo, tengah surut. Kondisi ini justru membuka peluang baru bagi warga sekitar. Lahan bekas genangan air dimanfaatkan untuk bertani secara musiman.

Sejumlah warga menanami lahan tersebut dengan jagung dan kacang tanah. Bagi petani, lahan kering bukan sekadar hamparan kosong, tetapi bisa menjadi sumber tambahan penghasilan selama debit air belum kembali naik.

Surutnya air Waduk Bendo telah berlangsung sekitar empat bulan. Lahan bekas genangan mulai diolah warga, kemudian ditanami komoditas pertanian sesuai kondisi tanah.

Salah seorang petani, Mbah Tulus, mengatakan kondisi lahan kering lebih baik dimanfaatkan daripada dibiarkan kosong.

“Karena kering, sayang kalau lahan kosong. Kalau ditanami, rakyat bisa dapat pendapatan. Ini justru tambah penghasilan. Ada jagung, ada kacang. Banyak warga sini memanfaatkan lahan ini,” ujar Mbah Tulus.

Kacang tanah menjadi salah satu pilihan warga karena relatif cepat dipanen serta memiliki nilai jual cukup menarik.

Harga kacang tanah di tingkat petani saat ini sekitar Rp15 ribu per kilogram dalam kondisi basah. Sementara jagung berada di kisaran Rp6 ribu per kilogram.

Namun, warga paham lahan tersebut bukan area pertanian permanen. Saat debit Waduk Bendo kembali meningkat, lahan berpotensi tergenang dan aktivitas bercocok tanam harus dihentikan.

Surutnya Waduk Bendo tidak hanya mengubah wajah kawasan waduk, tetapi turut memengaruhi mata pencaharian warga sekitar.

Sebelum air surut, sebagian warga Ngadirojo mengandalkan aktivitas penyewaan perahu serta layanan wisata memancing. Kini aktivitas tersebut ikut tersendat.

Agung Margo, warga setempat, mengatakan kondisi itu berlangsung sejak memasuki musim kemarau sekitar empat bulan lalu.

“Mulai musim kemarau sudah sekitar empat bulanan lebih. Dampaknya jelas terasa. Kegiatan perahu akhirnya terganggu dan sekarang sudah tidak ada aktivitas seperti dulu,” kata Agung.

Aktivitas mencari ikan juga ikut berkurang. Bagi warga hendak menuju area genangan, jaraknya kini cukup jauh akibat penyusutan air, mencapai lebih dari dua kilometer.

“Kalau warga masih ada, tetapi mungkin persentasenya kecil karena perjalanan menuju area genangan cukup jauh,” tambah Agung.

Kondisi itu membuat warga mencari cara lain agar tetap bisa memperoleh penghasilan. Lahan bekas genangan pun menjadi sasaran.

Jagung dan kacang tanah dipilih sebagai tanaman musim­an. Bagi warga, kemarau tidak selalu berarti kehilangan rezeki.

Saat waduk menyusut, ladang pun muncul. Perahu boleh berhenti, tetapi warga memilih tetap bergerak mencari penghasilan.**

Jurnalis: Priyam.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version