SKI News
Tempe Mungil, Masalah Besar Saat Perajin Ponorogo Terjepit
Hadi Prayitno, perajin tempe
Suarakumandang.com, BERITA PONOROGO. Harga kedelai impor terus merangkak naik bukan sekadar angka di pasar, tapi sudah menggerus dapur produksi rakyat kecil.
Di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, perajin tempe kini dipaksa bermain “cilik-cilikan”: ukuran diperkecil, kualitas dijaga, tapi untung makin menipis.
Situasi ini bukan tanpa alasan. Daya beli masyarakat yang belum pulih membuat para perajin memilih menahan harga jual.
Akibatnya, satu-satunya jalan yang tersisa: mengecilkan ukuran tempe agar usaha tetap bernapas.
Kondisi ini dialami Hadi Prayitno, perajin tempe asal Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman.
Selama 14 tahun bertahan di usaha rumahan, kini ia harus menghadapi kenyataan pahit: tempe buatannya menyusut dari 380 gram menjadi 350 gram per kotak.
Langkah itu bukan strategi bisnis, melainkan bentuk bertahan hidup. Harga kedelai per Senin (4/5/2026) kembali naik menjadi Rp10.500 per kilogram, dari sebelumnya Rp9.600–Rp9.800 dua bulan lalu. Kenaikan bertahap ini terasa “pelan tapi mencekik”.
Belum selesai dengan kedelai, harga plastik pembungkus juga ikut melonjak hampir dua kali lipat.
Kombinasi ini membuat perajin seperti Hadi berada di posisi serba salah: menaikkan harga berisiko kehilangan pelanggan, bertahan berarti harus rela margin makin tipis.
Hadi Prayitno (Perajin Tempe)
“Sangat berdampak, apalagi harga plastik juga naik, kedelainya juga naik. Jadi tidak ada jalan lain selain menyiasati, tempenya dikecilkan.
Dulu 380 gram, sekarang jadi 350 gram. Kalau menaikkan harga tidak berani, pelanggan bisa kabur.”
Kini, Hadi hanya bisa menyesuaikan pasar dengan membuat tiga varian harga: Rp2.000, Rp4.000, dan Rp5.000.
Pilihan yang terlihat fleksibel, tapi sejatinya menggambarkan tekanan yang makin dalam di sektor usaha kecil.
Yang jadi pertanyaan, sampai kapan perajin harus berjuang sendiri? Tempe dan tahu bukan sekadar lauk murah, tapi bagian dari ketahanan pangan rakyat.
Ketika bahan bakunya terus bergantung pada impor dan harganya tak terkendali, di situlah peran negara diuji.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin yang “diperkecil” bukan hanya ukuran tempe, tapi juga jumlah perajinnya. Dan saat itu terjadi, yang hilang bukan sekadar produk melainkan denyut ekonomi rakyat kecil.
Jurnalis: Tim Redaksi