SKI News

Pahingan Maospati Tak Mau Kalah Zaman, Pasar Rakyat Sejak 1980-an Masih Bikin Warga Betah Belanja

Published

on

Suasana Pasar Pahing Maospati, seorang mahasiswa UNESA melihat-lihat onderdil sepeda bekas di tengah ramainya aktivitas jual beli warga, Rabu (2/9/2026).

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Pahingan Maospati rupanya belum mau kalah dengan zaman. Pasar rakyat berlangsung setiap pasaran Pahing di Jalan Barat, Kelurahan Mranggen, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan, masih ramai didatangi pedagang dan pembeli dari berbagai daerah.

Beragam kebutuhan tersedia di pasar tersebut, mulai pakaian, peralatan rumah tangga, kebutuhan sehari-hari hingga jasa perbaikan barang.

Aktivitas tawar-menawar menjadi warna khas Pahingan, sekaligus membuat pasar tradisional ini tetap punya tempat di hati warga, Rabu (2/9/2026).

Lurah Mranggen, Agus Heru, mengungkapkan Pahingan telah berlangsung sejak sekitar 1980-an. Awalnya, pasar tersebut dikenal sebagai pasar hewan dengan komoditas utama kambing dan sapi.

“Pahingan itu menurut kacamata saya adalah kegiatan pasar tradisional. Jadi itu sudah dilakukan mulai tahun 80-an, kalau enggak salah, itu sudah ada,” ujar Agus Heru.

Seiring perjalanan waktu, Pahingan berkembang. Dari semula fokus pada perdagangan ternak, kini berubah menjadi pasar rakyat dengan aneka kebutuhan masyarakat.

“Awal-awalnya itu memang pasar Pahing khusus pasar untuk hewan, khusus ternak saja. Ternyata berkembang, sekarang untuk macam-macamnya luar biasa,” katanya.

Bukan cuma warga Maospati, pedagang dari wilayah sekitar ikut meramaikan Pahingan.

Pedagang asal Madiun hingga Ngawi turut memanfaatkan keramaian pasar untuk menawarkan dagangan.

“Kalau sekarang ini, jelas tidak hanya orang Maospati saja. Bahkan orang Madiun pun ada, Ngawi pun ada,” ujar Agus Heru.

Menariknya, pedagang datang secara mandiri tanpa undangan khusus pemerintah.

Pemerintah juga tidak menerapkan izin khusus maupun retribusi bagi pedagang Pahingan.

Kondisi tersebut membuat Pahingan menjadi ruang usaha bagi masyarakat bermodal kecil. Warga bisa mencoba berjualan dari skala sederhana tanpa terbebani biaya sewa tempat.

“Justru ini memberi peluang, kesempatan untuk teman-teman mau belajar berjualan dari nol pun mulai dari sini,” jelasnya.

Penempatan lapak berjalan secara alami. Pedagang lama telah memiliki lokasi masing-masing, sedangkan pedagang baru biasanya berkomunikasi untuk mencari ruang kosong. Toleransi antarpedagang membuat aktivitas jual beli tetap berjalan.

Tak hanya pedagang mendapat pemasukan. Warga sekitar ikut merasakan perputaran ekonomi. Sejumlah gang permukiman dimanfaatkan sebagai lokasi parkir saat Pahingan berlangsung, membuka peluang pendapatan bagi lingkungan sekitar.

Di tengah menjamurnya pusat perbelanjaan dan transaksi digital, Pahingan menawarkan pengalaman berbeda.

Pembeli bisa melihat barang secara langsung, memilih kebutuhan sekaligus menawar harga di hadapan pedagang.

Namun, pesona pasar rakyat tersebut juga menyisakan pekerjaan rumah. Kepadatan pedagang dan pembeli membuat arus lalu lintas di Jalan Barat kerap tersendat.

“Kalau protes pasti ada. Cuma kita kembalikan, setiap kebijakan ataupun program pasti ada pro dan kontra,” kata Agus Heru.

Pemerintah mengimbau pembeli memarkir kendaraan pada lokasi tersedia sebelum berbelanja. Penataan kawasan juga menjadi perhatian, termasuk rencana pembangunan trotoar di sisi kiri dan kanan jalan.

Agus Heru berharap Pahingan tetap bertahan sebagai pasar tradisional sekaligus menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Magetan bagian timur.

“Harapan kami Pahingan tetap harus ada, karena ini mungkin di wilayah Magetan sebelah timur satu-satunya pasar tradisional dengan penjual terbanyak,” pungkasnya.

Sementara itu, Arsya, warga Mranggen sekaligus pembeli, mengaku Pahingan memudahkan warga memenuhi kebutuhan tanpa harus bepergian jauh.

Menurut Arsya, berbagai kebutuhan bisa ditemukan di pasar tersebut, mulai pakaian, peralatan rumah tangga hingga jasa perbaikan jam. Harga relatif terjangkau turut menjadi daya tarik.

“Enak sih sebenarnya, bisa beli barang-barang sekiranya kita butuhkan tanpa harus jauh-jauh, seperti memperbaiki jam, terus pakaian lebih murah sama alat-alat lainnya,” ujar Arsya.

Kendati begitu, Arsya mengeluhkan kepadatan lalu lintas serta kondisi panas saat berbelanja.

“Cuma minusnya jalanannya macet pol. Kalau panas aku enggak kuat,” katanya.

Ia berharap Pahingan terus berkembang, ekonomi pedagang semakin stabil serta penataan kawasan diperbaiki. Pelebaran jalan dinilai bisa menjadi salah satu solusi agar aktivitas pasar tidak mengganggu kelancaran lalu lintas.

“Harapannya semoga pasar Pahingan ini bisa lebih baik, ekonominya lebih stabil dan ada kemajuan seperti pelebaran jalan agar akses jalannya tetap lancar,” pungkas Arsya.

Puluhan tahun berlalu, Pahingan masih punya cerita. Setiap pasaran Pahing, Jalan Barat kembali berubah menjadi denyut ekonomi rakyat tempat pedagang mencari rezeki, warga berburu kebutuhan, sekaligus ruang tradisi lokal terus bertahan di tengah gempuran zaman.**…

Jurnalis: Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version