SKI News
Menikmati Awal Musim Gugur di Belanda, Kali Ini Tanpa Agenda Dinas
Suprawoto bersama istri, Titik Sudarti, saat berada di pesawat dalam perjalanan menuju Belanda untuk berlibur sekaligus mengunjungi anak dan cucu di tengah suasana awal musim gugur.
Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Sudah beberapa kali saya pergi ke Belanda, mungkin lebih dari lima kali. Namun, perjalanan kali ini terasa berbeda. Jika sebelumnya saya lebih banyak datang untuk keperluan dinas sehingga waktu tersita oleh jadwal dan berbagai agenda pekerjaan, kali ini saya benar-benar bisa bersantai.
Liburan kali ini sekaligus menjadi kesempatan untuk mengunjungi anak dan cucu saya, mereka sudah menetap di Belanda. Jika perjalanan dinas biasanya hanya berlangsung sekitar satu minggu, kali ini saya bisa menikmati waktu lebih dari sebulan untuk berlibur sekaligus merasakan suasana awal musim gugur di Belanda.
Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Belanda untuk merencanakan liburan setiap tahun. Demikian pula keluarga anak saya. Tahun lalu, mereka berlibur ke Vietnam, kemudian melanjutkan perjalanan ke Indonesia. Tahun ini giliran saya mendapat undangan ke Belanda, sekaligus diajak mengunjungi berbagai negara di Eropa.
Jarak antarnegara di Eropa relatif dekat. Dari tempat tinggal anak saya, perjalanan ke Jerman hanya membutuhkan waktu sekitar tiga jam. Begitu pula jika ingin berkunjung ke Belgia, Prancis, atau Inggris, semuanya relatif mudah dijangkau.
Enam bulan sebelum keberangkatan, saya sudah mengurus visa melalui perwakilan konsulat di Surabaya. Ada sejumlah persyaratan untuk berkunjung ke Belanda. Menurut pengalaman saya, proses pengurusan visa relatif mudah jika ada pihak di negara tujuan bersedia menjadi penjamin selama kita berada di sana.
Apalagi penjamin saya adalah anak dan menantu sendiri. Keduanya sudah lama bekerja di Belanda dengan profesi serta pekerjaan cukup meyakinkan. Kondisi itu menjadi bagian dari dokumen pendukung pengajuan visa. Saya juga memiliki alasan kuat untuk kembali ke Indonesia setelah liburan selesai.
Sebelum mengurus visa, kami tentu sudah membeli tiket pesawat pulang-pergi Jakarta–Amsterdam. Tiket pulang-pergi menjadi salah satu dokumen pendukung penting dalam pengajuan visa untuk keperluan wisata.
Jadwal kedatangan untuk mengurus visa pun sudah ditentukan oleh perwakilan konsulat, termasuk jam pelayanan. Dengan sistem tersebut, pemohon bisa datang sesuai jadwal sehingga tidak perlu berdesakan dalam antrean panjang.
Pengalaman mengurus perjalanan ke luar negeri kali ini berbeda dengan ketika saya masih bertugas di Jakarta. Dahulu, urusan paspor dan visa untuk perjalanan dinas biasanya ditangani staf saya. Penggunaan paspor dinas juga memberikan kemudahan tersendiri dalam sejumlah urusan perjalanan internasional.
Namun, untuk beberapa negara, proses pemeriksaan tetap ketat. Amerika Serikat, misalnya, dikenal memiliki prosedur pemeriksaan masuk cukup ketat. Saya bahkan pernah mendengar pengalaman seorang menteri di lingkungan pekerjaan saya dahulu mengalami penolakan visa. Saya tidak mengetahui pasti penyebabnya, meskipun saat itu sempat muncul dugaan berkaitan dengan nama.
Karena Belanda sudah memasuki musim gugur, saya mempersiapkan pakaian cukup tebal. Pakaian lama, biasa saya gunakan ketika bertugas ke luar negeri, kembali saya keluarkan dari lemari. Sementara itu, beberapa kebutuhan lain saya beli di Jakarta.
Ungkapan sedia payung sebelum hujan memang tepat untuk perjalanan ke luar negeri, terutama ke Belanda. Cuacanya bisa berubah sewaktu-waktu. Bagi orang Indonesia, udara pada awal musim gugur mulai terasa dingin, terlebih bagi mereka terbiasa hidup di wilayah tropis.
Minggu lalu, tibalah jadwal penerbangan sesuai tiket kami. Pesawat Garuda Indonesia rute Jakarta–Amsterdam dijadwalkan berangkat pukul 00.50 WIB.
Dua jam sebelum keberangkatan, saya sudah tiba di bandara untuk melakukan check-in, diantar anak saya kebetulan bekerja sebagai pilot Garuda Indonesia.
Penumpang terlihat cukup banyak. Antrean check-in cukup panjang, dengan sebagian besar penumpang tampak berasal dari Eropa.
Meski membeli tiket kelas ekonomi, saya dan istri berkesempatan menikmati kelas bisnis karena fasilitas upgrade melalui anak saya. Kebetulan, kursi di kelas bisnis masih tersedia.
Pesawat Garuda Indonesia Boeing 777-300ER berbadan lebar itu memiliki kapasitas sekitar 400 penumpang, bergantung pada konfigurasi kabin. Tepat pukul 00.50 WIB, pesawat mulai bergerak meninggalkan apron menuju landasan pacu.
Penerbangan Jakarta–Amsterdam direncanakan berlangsung sekitar 14 jam 22 menit tanpa transit.
Beruntung, saya dan istri bisa duduk di kelas bisnis. Perjalanan panjang terasa nyaman dan tidak terlalu melelahkan. Posisi kursi dapat diatur sesuai kebutuhan, bahkan direbahkan hingga menyerupai tempat tidur. Fasilitas tersebut sangat membantu penumpang beristirahat selama penerbangan jarak jauh.
Namun, kenyamanan kelas bisnis tentu berbeda dengan kelas satu atau first class. Pada 2015, ketika mendapat kesempatan menjalankan tugas dinas ke Amerika Serikat, saya pernah menikmati fasilitas first class Singapore Airlines (SQ).
Pengalaman itu terasa sangat istimewa. Perjalanan menuju Amerika Serikat dengan transit di Frankfurt, Jerman, terasa nyaman meskipun menempuh jarak sangat jauh. Pesawat berbadan besar memberikan keleluasaan bagi penumpang untuk menikmati perjalanan panjang. Kini, sejumlah maskapai bahkan melayani beberapa rute Amerika Serikat tanpa transit.
Situasi konflik di Timur Tengah sempat membuat saya sedikit khawatir. Saya bertanya-tanya, rute mana yang akan dilalui pesawat menuju Belanda?
Rasa penasaran itu terjawab setelah saya memantau peta penerbangan pada monitor di kabin. Pesawat bergerak dari Jakarta menuju wilayah barat Indonesia, melintasi kawasan Samudra Hindia, Sri Lanka, dan India, kemudian menuju kawasan Timur Tengah sebelum melanjutkan perjalanan ke Eropa.
Saat pesawat mendekati Oman hingga kawasan Terusan Suez, saya sengaja tidak tidur. Saya ingin terus memantau perjalanan, sekaligus memastikan posisi pesawat di tengah situasi konflik kawasan tersebut.
Sebenarnya, kekhawatiran itu tidak terlalu besar. Namun, ketika mendengar berita konflik di Timur Tengah, wajar jika muncul sedikit rasa waswas saat pesawat melintasi kawasan sekitarnya.
Tepat pukul 10.40 waktu setempat, pesawat Garuda Indonesia mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam, salah satu bandara tersibuk di Eropa.
Begitu keluar dari pesawat, udara dingin langsung terasa menusuk kulit. Untungnya, saya sudah mengenakan pakaian sesuai kondisi musim gugur. Bagi orang Indonesia terbiasa hidup di daerah tropis, perubahan suhu seperti itu tentu membutuhkan penyesuaian.
Antrean panjang di bagian imigrasi menjadi pemandangan biasa bagi penumpang internasional. Pemeriksaan dokumen dilakukan dengan ketat, terutama untuk memastikan kelengkapan persyaratan masuk ke negara tujuan.
Saya sendiri melewati pemeriksaan dengan lancar. Petugas tidak banyak mengajukan pertanyaan, sehingga proses kedatangan berjalan relatif cepat.
Setelah mengambil bagasi dan keluar dari area kedatangan, saya sudah ditunggu menantu saya, seorang warga negara Belanda. Ia bekerja sebagai dosen dan menjabat assistant professor di TU Delft, salah satu perguruan tinggi teknik terkemuka di Eropa.
Pertemuan itu langsung mengobati rasa rindu. Anak dan cucu saya tidak ikut menjemput karena sedang bersekolah.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, suasana Belanda terasa tidak asing. Ingatan saya langsung kembali ke sekitar sepuluh tahun lalu, ketika anak-anak masih kuliah dan menempuh pendidikan magister dengan beasiswa di negeri ini.
Anak pertama saya merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Setelah menyelesaikan pendidikan dokter umum, ia mendapat beasiswa untuk mengambil program magister bidang kesehatan di University of Twente, Belanda, salah satu perguruan tinggi terkemuka di negara tersebut.
Ketika mendapat tugas dinas ke Eropa, saya sering menyempatkan diri mengunjungi anak saya di Enschede.
Setelah meraih gelar magister, ia kembali ke Indonesia untuk melanjutkan pendidikan spesialis anak atau PPDS Anak di FKUI/RSCM Jakarta. Saat ini, ia meneruskan pendidikan subspesialis atau Sp-2 Hematologi Onkologi Anak di FKKMK UGM/RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta.
Anak kedua saya juga perempuan. Setelah lulus dari program studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB Unair), dengan predikat cumlaude, ia mendapat beasiswa melalui program unggulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengambil program magister Accounting and Control di Vrije Universiteit Amsterdam.
Perguruan tinggi tersebut dikenal memiliki keunggulan dalam bidang ekonomi dan bisnis.
Ketika anak kedua kuliah di Amsterdam, saya juga sering mampir ke Belanda setiap kali menjalankan tugas dinas ke Eropa.
Karena itulah, Belanda bukan lagi negara asing bagi saya. Ada banyak kenangan, pengalaman, dan cerita keluarga melekat pada negeri ini.
Salah satu hal selalu menarik perhatian saya setiap kali berada di Belanda adalah kondisi jalan raya dan ketertiban lalu lintasnya.
Jalan-jalannya relatif mulus, sementara pengaturan lalu lintas berjalan teratur. Informasi batas kecepatan pada sejumlah ruas jalan dapat berubah sesuai kondisi lalu lintas. Pengemudi harus memperhatikan rambu elektronik dan informasi kecepatan terpasang di sepanjang jalan bebas hambatan.
Berbeda dengan anggapan sebagian orang bahwa batas kecepatan selalu tetap, di Belanda pengaturan pada ruas tertentu dapat disesuaikan dengan situasi jalan. Pengawasan elektronik juga diterapkan untuk mendeteksi pelanggaran.
Jika melanggar ketentuan, pengemudi dapat menerima surat pemberitahuan denda untuk diselesaikan sesuai prosedur.
Sekitar 25 menit perjalanan dari bandara, mobil penjemput memasuki wilayah Berkel en Rodenrijs, bagian dari gemeente Lansingerland. Wilayah ini berada di kawasan antara Rotterdam, Delft, dan Den Haag.
Lokasinya cukup strategis. Menantu saya hanya membutuhkan waktu sekitar 10–15 menit berkendara untuk mencapai TU Delft tempatnya mengajar. Bahkan, perjalanan menggunakan sepeda juga relatif memungkinkan karena tersedia jalur khusus sepeda dengan kondisi cukup nyaman.
Rumah anak saya di Belanda, menurut saya, sangat ideal dan nyaman. Lingkungannya tertata baik, tenang, serta memberikan suasana menyenangkan untuk beristirahat.
Di belakang rumah terdapat taman dan tempat bersantai di tepi kanal. Air kanal terlihat bersih, sementara bebek-bebek berwarna-warni berenang dengan bebas. Hewan-hewan itu tidak terlalu takut terhadap manusia.
Beragam burung juga terlihat hinggap di pepohonan sepanjang taman. Sementara itu, angsa dan burung air sejenisnya kerap berenang di kanal maupun danau dekat rumah.
Pemandangan tersebut menghadirkan suasana damai, jauh dari hiruk-pikuk kesibukan kota. Bagi saya, inilah salah satu kenikmatan liburan kali ini: tidak dikejar agenda dinas, bisa berkumpul bersama anak dan cucu, serta menikmati suasana awal musim gugur di Belanda dengan lebih santai.**(Bersambung)
Oleh Suprawoto