SKI News

Menapak Jejak Habibie di Aachen, dari Mimpi Besar hingga Kebanggaan Teknologi Indonesia

Published

on

Suprawoto berfoto bersama keluarga putrinya di depan Balai Kota Aachen, Jerman. Momen kebersamaan keluarga ini menjadi bagian dari perjalanan menyusuri kota bersejarah sekaligus mengenang jejak BJ Habibie di Aachen

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Nama mantan Presiden Habibie seperti tidak bisa dipisahkan dengan Aachen. Sebuah kota pelajar yang tidak terlalu besar  namun banyak menyimpan catatan sejarah negara Jerman.

Dan di kota ini Habibie pernah belajar mulai tahun 1955-1965 (setelah berhenti kuliah di ITB) untuk mengambil gelar sarjana sampai dengan doktornya dengan predikat summa cumlaude. Sebuah campaian predikat yang tentu jarang sekali bisa diraih oleh orang asing di salah satu perguruan tinggi teknik terkemuka di Jerman.

 Maka ketika anak saya mengagendakan untuk pergi ke Kota Aachen selama empat hari, seperti ngrindhik asu digitik saya langsung setuju saja. Karena memang kota Aschen relatif dekat dengan timpat tinggal anak saya.

Kira-kira hanya tiga jam berkendaraan dengan mobil atau naik kereta. Dengan demikian waktunya tidak habis di jalan. Apalagi kota Aachen seperti memiliki ikatan emosional dengan Indonesia karena Habibie pernah berdiam cukup lama di kota ini untuk belajar.

Karena anak saya sudah memiliki anak dua, dan yang satu baru umur empat bulan dan yang sulung umur lima tahun, maka barang bawaan cukup banyak. Agar perjalanan tidak repot maka suami anak saya yang warga Belanda dan menjabat sebagai asisten professor di Faculty of Aerospace Engineering TU Delf membawa mobil untuk membawa barang, Sedang lainnya naik kereta sehingga tidak repot. Selain itu di Belanda dan Jerman aturan kapasitas mobil sangat ketat, maka kalau mobil dipaksakan diisi penumpang empat dewasa dan dua bocil akan melanggar aturan. Dan tindakan itu dianggap tidak terpuji dan sangat dihindari di Belanda.

Akhirnya agar perjalanan lancar, karena ada bayi maka sejak awal diatur. Saya berangkat sengaja bersama menantu saya dengan mobil sedang anak saya dengan bayinya ditemani oleh istri saya naik kereta. Sedang kembalinya dari Jerman, ganti saya yang menemani anak saya naik kereta sehingga saya sendiri yang hobi menulis bisa melihat dan merasakan pengalaman yang banyak.

Karena check in di hotel mulai jam 15.00, maka kita sengaja berangkat sekitar jam 10:00 dari rumah dan sekalian ngedrop dulurombongan yang naik kereta ke stasiun agar rombongan anak saya yang naik kereta tidak repot. Karena barang-barang dibawa mobil, maka anak dan istri saya tinggal membawa tas kecil dengan stroller untuk membawa cucu saya yang masih bayi. Saya merasa nyaman saja melepas anak dan istri dengan membawa bayi naik kereta di Belanda karena keretanya sangat nyaman dan ramah bagi siapa saja.

Suprawoto menikmati kuliner khas Indonesia di Restoran Warteg, Aachen, Jerman. Sajian sederhana bercita rasa Nusantara menjadi pengobat rindu kampung halaman di tengah perjalanan menyusuri kota bersejarah di Jerman.

Musim gugur yang sudah mulai dingin, memaksa saya harus memakai dan membawa baju-baju tebal. Di luar suhu sudah bisa mencapai tujuh derajat celcius. Tentu bagi kita yang biasa hidup di daerah tropis tentu sudah sangat dingin.

Perjalanan dimulai dari rumah anak saya menuju ke arah kota Maastricht. Kota yang kodisi tanahnya tinggi di negara Belanda. Seperti kita ketahui negara Belanda hampir tiga perempatnya ada di bawah permukaan laut. Maka tak heran bila kota Masstricht merupakan kota di Belanda yang tidak ada kanal-kanalnya dan berbatasan dengan Jerman. Tetapi kota ini memiliki sungai yang cukup besar yaitu sungai Maas.

Satu setengah jam perjalanan, mobil listrik yang dikemudikan menantu saya harus segera di-charge baterynya agar kalau nanti sampai Jerman tidak kesulitan nyari-nyari tempat charge. Di setiap SPBU (kalau di Indonesia) di jalan bebas hambatan pasti banyak dipasang alat charge sampai bisa memuat sepuluh mobil. Bila nge-charge di SPBU juga harus membayar tetapi tidak terlalu mahal. Menurut saya mobil listrik merk Volvo enak sekali dikendarai dengan berbagai instrumen yang serba elektrik.

Sambil minum teh panas dan makan roti saya menunggu selesainya mobil di-charge. Menurut petunjuk di monitor hanya sekitar 40 menit battery sudah full. Termasuk cepat bila nge-charge di SPBU dibandingkan di rumah. Perjalanan saya dengan mobil sangat lancar karena memang melewati jalan bebas hambatan. Walaupun banyak truk-truk besar, tetapi karena taat aturan dan truknya juga relatif baru, maka selama perjalanan tidak pernah menemui yang namanya mobil mogok. Dan juga tidak menemui polisi. Baru ketika masuk Jerman, ada petugas polisi yang menjaga dengan hanya mengamati maobil-mobil yang masuk Jerman tanpa diperiksa paspor atau dihentikan.

Tak lama selepas melewati perbatasan mobil sudah memasuki kota Aachen di mana Habibie lama tinggal di kota ini untuk studi. Dan saat ini mulai banyak mahasiswa Indonesia yang kuliah di Aachen mengikuti jejak Habibie. Namun tidak semuanya mengambil ilmu teknik dirgantara atau konstruksi pesawat terbang, karena saat ini di Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule (RWTH) Aachen University tidak hanya ilmu teknik, tetapi juga ada berbagai jurusan mulai humaniora, ekonomi dan bisnis sampai ilmu kedokteran juga ada.

Ternyata perjalanan dengan mobil dan kereta  sampainya di hotel hampir sama. Anak saya sampai di hotel ketika saya baru sekitar sepuluh menit dan melakukan check in. Hotelnya

model klasik seperti Hotel Majapahit di Surabaya. Karena sampai hotel juga masih agak siang maka setelah memasukkan barang saya sengaja jalan-jalan ke Kampus RWTM di mana Habibie dulu pernah kuliah. Karena jaraknya cukup dekat hanya sekitar satu kilometer saja dari hotel, maka saya hanya berjalan kaki saja. Menyusuri pedestrian antara hotel dan RWTM saya membayangkan sekitar tahun 1950-an Habibie muda yang saat itu sedang merenda kemudian menjahit mimpinya untuk menjadi seorang insinyur.

Mengunjungi Universitas RWTH.

RWTH merupakan salah satu universitas teknik yang paling baik di Eropa dan didirikan tahun 1870. Terletak di kota kecil Aachen Jerman bagian barat daya perguruan tinggi ini memiliki ranking yang bagus di dunia. Tahun 2026 ini saja rangkingnya menurut QS World University  berada pada posisi di 104. Dan khusus di bidang Teknik berada di ranking 35. Bandingkan dengan perguruan tinggi teknik di Indonesia seperti ITB yang merupakan perguruan tinggi paling unggul di Indonesia di bidang teknik menempati ranking 287 dan khusus ranking di bidang teknik berada pada ranking 282.

Suprawoto mengabadikan momen di depan Gerbang Kuno Aachen, Jerman, salah satu bangunan bersejarah peninggalan masa lalu sekaligus saksi perjalanan panjang Kota Aachen.

Sebenarnya Habibie sebelum kuliah di RWTH lebih dulu kuliah di TU Delft Belanda, karena memanasnya hubungan Indonesia-Belanda karena masalah Irian Barat (saat itu) maka Habibie tidak menyelesaikannya dan pindah ke RWTH. Dan di Jerman ini kemudian Habibie menyelesaikan pendidikannya sampai memperoleh doktor dengan predikat summa cumlaude. Sebuah prestasi yang sangat luar biasa bagi anak bangsa yang memperoleh predikat itu di sebuah perguruan tinggi teknik ternama.

               

Sama seperti di Indonesia, dulu RWTH juga mengkhususkan pada pendidikan teknik. Namun saat ini sudah banyak fakultas yang dibuka sehingga tidak melulu bidang teknik. Mulai fakultas seni dan humaniora, fakultas ekonomi dan bisnis, bahkan fakultas kedokteran juga ada. Sehingga saat ini RWTH memiliki banyak sekali jurusan tidak hanya mengkhususkan diri di bidang teknik.

               

Sama persis seperti di Indonesia. Seperti ITB Bandung saaat ini tidak hanya bidang teknik tetapi juga membuka ekonomi dan bisnis. Demikian juga ITS Surabaya malahan saat ini membuka fakultas kedokteran. Bahkan IPB Bogor yang sejak dulu mengkhususkan diri pada pendidikan tinggi di bidang pertanian juga telah lama membuka jurusan ekonomi bisnis dan saat ini juga membuka fakultas kedokteran.

               

Sebagai salah satu kota pelajar di Jerman, dan memiliki perguruan tinggi terkenal seperti RWTH tidak mengherankan bila di kota  Aachen banyak mahasiswa asing dari berbagai penjuru dunia belajar di kota ini. Tentu saja termasuk mahasiswa Indonesia dan salah satu pelopornya dari Indonesia adalah Habibie. Tak mengherankan bila RWTH bagi bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dengan Habibie.

               

Ketika masuk di komplek kampus RWTH sangat terasa nuansa akademiknya. Banyak mahasiswa dari berbagai negara menimba ilmu di sini. Di lihat dari bentuk wajah dan tubuhnya kita bisa mengira-ira ini berasal dari mana. Mulai dari Afrika, Asia, Amerika Latin, Arab dan lainnya. Karena kampus RWTH juga dibelah jalan raya, maka banyak juga mahasiswa yang turun naik transportasi publik, baik itu bus maupun kereta api.

               

Tak sedikit mahasiswa yang bersepeda, namun kalau dibandingkan di Belanda saya kira budaya bersepeda Belanda memang lebih unggul. Letak RWTH kampusnya tidak jauh dengan kota, bahkan dalam kota. Kalau di Indonesia seperti Kampus lama Unair atau kampus lama UI yang ada di Salemba dan Rawamangun dulu. Sekarang dikembangkan wilayahnya jadi UNJ. Yang kampus-kampus lama tersebut saat ini sudah seperti menyatu dengan kota. Namun kota Aachen masih kalah besar dengan Surabaya apalagi Jakarta. Namun pendidikan tingginya lebih maju dibandingkan yang ada di Surabaya dan Jakarta. 

Habibie Bapak Teknologi Indonesia.

               

Ketika   berjalan di kampus RWTH saya terbayang di awal tahun 1990-an ketika saya mendengarkan ceramah Habibie di Gedung Negara Grahadi Surabaya. Saat itu Indonesia lagi getol-getolnya mengembangkan teknologi diberbagai bidang khususnya kedirgantaraan. Pada saat itu Habibie nama masih di puncak keharuman dan materi  ceramahnya tentang masa depan teknologi di Indonesia.

               

Bagaimana langkah strategis Habibie mengembangkan BPTT, industri strategis yang langsung di bawah kendalinya. Mulai dari IPTN, PT PAL, PT INKA Madiun serta industri strategis lainnya. Untuk mendukung visinya dan menyiapkan sumber daya manusia kemudian ribuan mahasiswa Indonesia dikirim ke berbagai negara untuk belajar teknologi, mulai tingkat sarjana, master sampai tingkat doktor. Harapannya para sarjana Indonesia yang nantinya harus pulang tersebut dapat mengembangkan teknologi di Indonesia. 

               

Di masa Habibie itulah anak-anak muda Indonesia seperti tersihir untuk ikut terlibat ingin mendukung visi Habibie dengan menjadi seorang insinyur. Tidak hanya anak muda, juga orang tua ikut bangga bila putra-putrinya menjadi bagian dari proyek Habibie. Baik yang kemudian mendapat kesempatan beasiswa belajar ke luar negeri maupun yang bekerja di lembaga-lembaga di bawah kendali Habibie.

               

Dulu orang tua akan sangat bangga bila anak-anak atau menantunya bekerja di BPTT, IPTN, PT INKA, PT PAL dan lembaga lainnya (di bawah kendali Habibie). Selain gajinya juga di atas gaji PNS umumnya, di mata masyarakat kalau bekerja di lembaga di bawah kendali Habibie bisa dipastikan pintar karena bisa dipastikan dari alumni perguruan tinggi dalam negeri top atau alumni pendidikan luar negeri terkemuka.

               

Pada saat ceramah itulah kemudian diselipkan mengapa Habibie bersedia pulang kembali ke Indonesia dan dipercaya untuk memimpin pengembangan teknologi di Indonesia. Pada sekitar tahun 1970 Presiden Suharto mengadakan kunjungan kerja ke Jerman. Pada saat di Jerman itulah, Pak Harto bertemu dengan para mahasiswa yang sedang menempuh studi dan tak lupa Habibie yang telah bekerja di Messerschmitt-Bolkow-Blohn atau MBB Hamburg juga diundang pula. Pada pertemuan tersebut Pak Harto menghimbau pada saatnya agar para mahasiswa setelah menimba ilmu serta pengalaman di Jerman bisa mengembangkan teknologi di tanah airnya Indonesia.

Berbagai sumber menjelaskan, Ibnu Sutowo yang ketika itu sebagai Dirut Pertamina yang mengenalkan Habibie dengan Pak Harto. Setelah pertemuan itu karier Habibie di Negeri Panser itu juga terus bersinar hingga akhirnya tahun 1973, dia dipercaya sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi di MBB periode 1973-1978. Bayangkan saat itu putra Indonesia sudah dipercaya menjadi salah satu petinggi di perusahaan penerbangan terkemuka di Jerman.

Tidak hanya itu, Habibie juga ditawari untuk menjadi warga kehormatan Jerman. Tentu saja tawaran tersebut merupakan peristiwa langka yang amat jarang diberikan kepada warga negara lain oleh pemerintah Jerman. Tentu saja tawaran itu sedikit banyak untuk mengikat agar Habibie tetap bisa bekerja di Jerman atau minimal selalu menjalin hubungan yang dekat dengan Jerman. Namun Habibie menolaknya dengan halus.

Pada tahun 1974, sehabis meletusnya peristiwa Malari 1974 (gerakan mahasiswa yang melakukan demo besar-besaran dan meletus pada tanggal 15 Januari 1974) Pak Harto memanggil pulang Habibie, tepatnya tanggal 28 Januari 1974 di kediaman  Cendana, Habibie bertemu langsung dengan Pak Harto. Yang menarik dalam pertemuan tersebut terjadi dialog antara Pak Harto dan Habibie. Dan Pak Harto pada intinya meminta Habibie untuk pulang dan mengembangkan teknologi di Indonesia. Saat itu Habibie juga meminta langsung kepada Pak Harto,”Pak saya bersedia pulang kalau semua usul program pengembangan teknologi di Indonesia Bapak selalu menyetujui.

Tidak ada artinya saya nanti pulang, tetapi gagasan saya seperti Bapak tugaskan kepada saya tidak bisa berjalan.” Yang mengherankan jawaban Pak Harto langsung  kepada Habibie,”Oke semua programmu saya akan selalu setujui. Tetapi saya hanya minta satu saja, jangan sekali-kali kamu membuat revolusi di Indonesia. Kalau sampai terjadi revolusi di Indonesia yang sengsara itu rakyat Indonesia.”

Suprawoto bersama istri mengabadikan momen di kawasan sumber air panas Elisenbrunnen, Aachen, Jerman. Destinasi bersejarah ini menjadi salah satu tempat menarik dalam perjalanan mereka menyusuri Kota Aachen.

Itulah inti dialog antara Habibie dan Pak Harto ketika dipanggil pulang menurut pengakuan Habibie dalam ceramah yang saya terima di Grahadi tersebut. Dan mulai saat itu Habibie diangkat menjadi penasehat presiden bidang teknologi sekaligus memimpin divisi teknologi di Pertamina. Dan tahun 1978 secara resmi Habibie diangkat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi pada Kabinet Pembangunan III sekaligus memimpin lembaga dan industri strategis yang terkait. Di bawah kendali Habibie industri strategis di Indonesia mulai menapak dengan rute yang jelas dan mulai kelihatan membanggakan hasilnya.   

Kota Aachen Banyak Menyimpan Sejarah Jerman.

Sambil menyusuri kampus RWTH saya mengenang banyak perjalanan Habibie. Pulang dari kampus saya mampir di gerbang kuno Kota Aachen. Memang kota Acchen banyak menyipan sejarah Jerman. Di seberang kampus RWTH terletak Gerbang “Ponttor” yang menghadap ke utara merupakan salah satu gerbang kota tua abad pertengahan yang dibangun 1320 yang melindungi kota Aachen ketika itu. 

               

Malamnya saya sengaja makan malam di restoran Indonesia di Jerman. Dari hotel cukup jalan kaki, ditengah dinginnya musim gugur di Jerman saya mampir di sumber air panas di tengah kota. Dan Aachen dulu juga dikenal dengan kota spa, karena banyaknya kolam kuno yang memakai air panas berasal sumber air panas di kota ini. Salah satu spa yang terkenal adalah Elisenbrunnen.

Saat ini sumber air panas masih tetap mengalir tetapi sudah dibangun semacam monumen dengan air panas mengandung belerang yang terus mengalir. Dan di dinding monumen dipahat pada marmer siapa saja orang penting yang dulu pernah mengunjungi dan  berendam di air panas ini yang diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit saat itu.

               

Dari sumber air panas saya sengaja jalan di tengah kota yang dingin namun masih banyak pejalan kaki yang sedang menyusuri jalan mencari makan atau mahasiswa yang pulang belajar. Atau turis yang sedang menikmati suasana malam di kota Aachen. Tidak lama berjalan dari sumber air panas ke restoran Indonesia, sekitar dua puluh menit sudah sampai. Baru mau masuk membaca namanya saya agak terkejut. Namun kursi sudah penuh, untung anak saya sudah pesan tempat sebelumnya untuk makan malam.

               

Nama restorannya sangat familiar di telinga kita “Restoran Warteg.” Letaknya dipojokan jalan yang sangat strategis. Dan restoran ini milik patungan tiga pasangan suami istri salah satunya WNI. Tiga pasangan ini kemudian membuka Restoran Warteg ini. Menunya bermacam-macam.

Tentunya menu Indonesia. Ternyata orang asing banyak yang suka masakan Indonesia. Salah satu menu andalan di restoran ini dan banyak dipesan orang-orang bukan WNI adalah soup iga. Tentunya bagi saya setiap masuk restoran Indonesia, selain rindu masakan tanah air juga ketemu orang-orang Indonesia di perantauan. Kalau pas makan masakan Indonesia dan ngobrol dengan WNI rasanya lupa kalau saat itu ada di negeri orang.

               

Saya sengaja pesan menu nasi ikan mangut. Sedang anak saya pesan nasi bebek Madura. Sedang istri saya pesan Mie Goreng dan nasi goreng dan menantu saya pesan sama dengan saya. Jujur saya harus memuji rasanya cukup enak. Wajar kalau waktunya makan selalu ramai. Tapi kalau makan jangan melihat harga kemudian dikurs ke rupiah jadinya nanti makannya tidak bisa tertelan. Bayangkan nasi bebek Madura harganya 16,5 Euro. Kalau dirupiahkan sudah 16,5 X Rp 20.000=Rp 330.000,00. Di Indonesia sudah bisa buat orang lima heeee. Sekali lagi jangan lihat kurs.

Yang membuat saya ikut senang, walaupun tamunya banyak pelayanannya juga cepat. Resto Warteg tersebut dilayani oleh lima orang termasuk juru masak. Salah satu pelayan perempuan muda yang juga mahasiswa RWTH jurusan marketing asli Lampung,  yang kebetulan melayani saya merupakan mahasiswi dan sedang mencari tambahan untuk hidup di Jerman kemudian menjadi pelayan di restoran.

               

Hari kedua saya mengagendakan jalan-jalan di kota tua Aachen sekaligus mengunjungi Balai Kota Aachen dan Katedral yang sudah sangat terkenal itu. Dan memang antara Katedral dan Balai Kota Aachen bersebelahan. Balai Kota kuno yang dibangun tahun 1330-1349 ini sengaja dibangun di atas reruntuhan bekas istana Kaisar Charlemagne. Dan banyak kaisar Jerman yang kemudian donobatkan di Katedral ini dan melakukan jamuan makan yang sangat megah di Balai Kota.

               

Sedang Katedral sendiri dibangun atas peritah Kaisar Chalemagne sekitar tahun 793-813. Dan Katedral ini telah menjadi situs Warisan Dunia Unesco pertama di Jerman (1978).  Dalam rentang waktu 936-1531 sudah ada 31 raja dan ratu yang dinobatkan di Katedral ini. Tak mengherankan bila Katedral ini menjadi tujuan turis yang mengunjungi Aachen. Sungguh, memasuki wilayah Balai Kota dan Katedral seolah kita masuk ke lorong waktu, menjadi bagian denyut nadi ketika Katedral dan Balai Kota difungsikan waktu itu.

               

Malam harinya saya sengaja diajak makan di restoran Turki yang terkenal di Aachen. Perlu diketahui, di Kota Aachen juga banyak komunitas Turki. Selain juga ada beberapa masjid juga komplek restoran yang menyajikan masakan Timur Tengah khususnya Turki. Di restoran Turki saya sengaja memesan masakan Mixed Grill  yang dimakan bersama nasi dan  kentang sebagai karbohidratnya. Hari ketiga sengaja seharian hanya jalan-jalan di kota tua dan malamnya makan di Restoran Klasik Jerman yang terkenal. Mencoba menu masakan Jerman. Namun menurut saya yang paling enak makanan Jerman itu “sosis”-nya. Betul-betul enak sekali.    

Kiprah Habibie Setelah Kembali ke Tanah Air.

               

Hari keempat, saya setelah sarapan langsung berkemas-kemas dan kemudian jalan-jalan di sekitar hotel yang memang sangat luas. Parkhotel Aachen yang dulu sebelum PD I merupakan salah satu hotel terbaik di Eropa saat ini tingkat huniannya cukup tinggi. Apalagi di hari Natal pasti kalau tidak jauh hari booking pasti tidak dapat kamar. Hotelnya kondisinya juga masih sangat bagus dengan mempertahankan atsitektur dan perabotan lama. Namun sayangnya bagi kita orang Indonesia petugasnya kurang ramah. Dan itu hal biasa di hotel Eropa menurut hemat saya.

               

Jam 12.00 saya check out. Saya sengaja jalan saja dengan mendorong stoller ke stasiun sedang menantu saya dengan istri serta cucu saya yang besar ganti naik mobil. Hanya menunggu sekitar 10 menit, kereta yang membawa saya kembali ke Belanda sudah datang. Cucu saya tidak rewel selama dalam kereta. Hanya tertidur pulas. Dalam perjalanan itulah saya kemudian mengingat kembali perjalanan Habibie khususnya hubungannya dengan Pak Harto.

               

Selama pemerintahan Pak Harto, sejak Habibie kembali ke Indonesia langsung menjadi anak emas Pak Harto. Perkembangan teknologi semakin maju. Produksi pesawat terbang baik melalui kerjasama maupun mandiri bisa dicapai. Bahkan pesawat N250 bisa uji coba perdana yang direncanakan memiliki kapasitas 50 penumpang lebih. Terbang perdana dilakukan pada tahun 1995. Tapi sayang krisis ekonomi dan diikuti krisis politik menyebabkan Pak Harto turun dan digantikan Habibie. Y

ang menyedihkan menjelang turun, ketika Pak Haro harus menyetujui Letter of Intent (LoI) berupa bantuan dari IMF dan ketika Pak Harto tanda tangan LoI tersebut berdiri di samping Pak Harto, Direktur Pelaksana IMF Michel Camdessus sambil menyilangkan kedua tangan di dada. Sebuah peristiwa yang sangat menyesakkan dan melukai rakyat Indonesia kalau diingat.

               

Sikap IMF tersebut dianggap sebagai bentuk, bahwa ekonomi Indonesia sejak saat itu harus tunduk kepada IMF. Dan beberapa ahli pendapat dan saya kira juga tidak salah karena sejak saat itu kebijakan ekonomi Indonesia yang diambil harus sesuai rekomendasi IMF. Salah satu rekomendasi IMF adalah penghentian proyek dan bantuan finansial untuk IPTN.

Bagaimana tidak menangis, pesawat yang dibanggakan bangsa Indonesia dan kelak bila diproduksi mssal akan menghubungkan antara daerah kepulauan di Indonesia itu harus terhenti. Dan pada akhirnya Habibie sebagai pengganti Pak Harto juga tidak bisa berbuat banyak karena menjabat presiden hanya sekitar satu tahun.     

Dan yang lebih tragis sejak Habibie menjabat presiden, juga diikuti bulan madu hubungan Pak Harto dan Habibie terputus. Bahkan tidak saling menyapa. Ketika Pak Harto sakit pun Habibie akan menjenguk tidak diperkenankan. Kedua mantan presiden tersebut saat ini telah tiada. Namun kita mestinya harus banyak belajar dari peristiwa tersebut.

Tak heran kalau anak saya yang kebetulan seorang pilot Garuda selalu berkaca-kaca ketika terbang dan mendarat di sebuah bandara terparkir pesawat ATR milik berbagai maskapai Indonesia buatan Perancis-Italia. Pesawat jenis ATR tersebut hampir sama persis tipenya dengan N250 prakarsa Habibie. Seandainya tidak ada krisis dan terganjal LoI IMF dan N250 bisa diproduksi massal……………Seandainya………. (bersambung).**.

Oleh: Suprawoto

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version