SKI News

Magetan Rawan Longsor, BPBD Pasang 5 EWS di Sejumlah Titik

Published

on

Petugas saat memasang alat EWS

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Sebagai kabupaten yang rawan bencana longsor dan banjir, Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan, Jawa Timur memasang 5 Early Warning System (EWS) di sejumlah titik. Diantaranya 2 unit EWS di Desa Ngancar, Kecamatan Plaosan, 2 unit EWS di Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, masing-masing dipasang di Dukuh Kopek dan Dukuh Candi, sedangkan satu unit EWS dipasang di Dukuh Compok Desa Dadi, Kecamatan Plaosan.

“Kita sudah pasang 5 EWS, sedangkan yang baru berjumlah satu unit EWS kita pasang di Dukuh Compok, Desa Dadi, Kecamatan Plaosan,” ujar Ari Budi Santoso selaku Kepala BPBD Magetan.

Masih kata Ari,  pemasangan EWS di sejumlah titik dianggap penting, karena sesuai indeks risiko bencana dan penyampian Indeks Rawan Bencana Indonesia (IRBI) bahwa daerah Kabupaten Magetan sebalah barat berpotensi tertinggi adalah tanah longsor.

“Sebab, potensi tertinggi tersebut lokasinya ada di area pegunungan, tepatnya di sebelah timur Gunung Lawu, maka dari itu kita fokuskan pemasangan 5 unit EWS di daerah-daerah rawan longsor,” kata Ari kepada jurnalis Suara Kumandang.

Lanjut Ari, bahwa pemasangan 5 unit EWS tersebut sesuai indeks risiko bencana yang disampaikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Sesuai kondisi kultur wilayah Kabupaten Magetan ini memang disinyalir bahwa Magetan dilewati oleh Sesar Kendeng makanya kita antisipasi ketika ada gerak-gerakan sinyal tersebut akan memberikan peringatan kepada masyarakat minimal mengurangi korban jiwa,” terang Ari.

Sementara itu, alat EWS tersebut untuk persiapan menghadapai musim penghujan yang diperkirakan akan tiba pada akhir tahun 2019.

Tujuan pemasangan EWS adalah untuk memberi peringatan kepada masyarakat sekitar sebelum terjadi longsor.”Cara kerja alat tersebut, lampu pada alat akan menyala 10 menit sebelum terjadi longsor sedangkan bunyi sirene akan bunyi 5 menit sebelum terjadi longsor,” paparnya.

“Untuk sementara ini alat EWS milik kita cara kerjanya masih manual yang artinya tidak memakai jaringan internet. Jadi kalau seandainya ada kejadian tanah longsor dan menyala lampu maupun bunyi, kami sudah ada petugas dari aparatur desa yang akan meriset atau mematikan alat jika kondisi sudah kembali normal,” kata Ari lagi.

Dijelaskan pula, bahwa radios suara sirene tersebut bisa mencapai kurang lebih ada 2 kilometer.” Sedangkan alat tersebut dipasang sekitar 20 sampai 30 meter dari rumah penduduk,” pungkasnya.

Jurnalis: Cahyo Nugroho.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version