SKI News

Magetan Kian Rawan Banjir, FRK Gaungkan “Resik Salurane, Nyerep Lemahe”

Published

on

Rudi Gosong

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Ancaman banjir di Kabupaten Magetan kini tak lagi bisa dianggap sekadar fenomena musiman.

Setiap langit mendung datang, rasa cemas mulai ikut “check-in” di benak warga dari Kartoharjo, wilayah barat, hingga pusat kota.

Genangan masuk ke rumah, merusak perabot, hingga melumpuhkan akses jalan masih jadi memori segar.

Situasi ini memunculkan pertanyaan makin relevan: kenapa hujan dulu berkah, sekarang sering berubah jadi masalah.

Forum Rumah Kita (FRK) Kabupaten Magetan menilai, akar persoalan bukan hanya pada intensitas hujan, tetapi pada hilangnya “jalan pulang” air. Air hujan kini kesulitan mengalir dan meresap secara optimal.

Ketua FRK, Rudi akrab disapa Rudi Gosong menyebut pesatnya pembangunan, berkurangnya ruang hijau, serta perubahan fungsi lahan menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.

Permukaan tanah yang tertutup beton, paving, dan aspal membuat daya resap air kian menurun.

Akibatnya, air berubah menjadi limpasan (run-off) yang membebani saluran drainase.

Di sisi lain, kondisi selokan di sejumlah titik juga belum ideal terdapat sedimentasi dan sampah domestik yang menghambat aliran.

“Kalau saluran tersumbat dan tanah tidak lagi menyerap air, banjir bukan lagi kemungkinan, tapi risiko nyata yang harus dihadapi,” tegasnya.

Sebagai langkah konkret, FRK menggagas gerakan bertajuk “Resik Salurane, Nyerep Lemahe”. Program ini menggabungkan pendekatan teknis dan sosial berbasis gotong royong.

Melalui gerakan ini, warga di 18 kecamatan diajak kembali menghidupkan budaya kerja bakti, khususnya dalam normalisasi drainase lingkungan.

Tujuannya jelas: memastikan air mengalir lancar tanpa hambatan.

Tak hanya itu, masyarakat juga didorong membuat Lubang Resapan Biopori (LRB) sebagai cara sederhana membuka kembali “pintu bumi”, agar air bisa meresap dan menjadi cadangan saat musim kemarau.

FRK menegaskan, gerakan ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

Pemerintah daerah diharapkan memperkuat regulasi hingga tingkat RT, sektor swasta didorong berkontribusi melalui CSR, sementara masyarakat menjadi ujung tombak pelaksanaan di lapangan.

“Ini kerja bareng, bukan satu pihak. Jangan sampai berhenti di seremoni, tapi harus berdampak nyata,” lanjutnya.

Sebagai bentuk keseriusan, FRK juga akan melakukan pengawasan lapangan agar program berjalan terukur mulai dari jumlah lubang resapan hingga kebersihan saluran drainase.

Gerakan ini menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar wacana. Perlu aksi nyata dan konsisten dari semua pihak.

Kalau selokan sudah bersih dan tanah kembali menyerap air, Magetan tak hanya bebas banjir tapi benar-benar bisa “kumandang” karena ketenangannya.

Magetan Kumandang, Yen Kabeh Tumandang!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version