SKI News
Jagung Riset ITS Tembus 10 Ton per Hektare, Dongkrak Target Swasembada
Petani menunjukkan hasil panen jagung varietas Reog 126 MTE 09 saat panen raya di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Varietas hasil riset ITS Surabaya tersebut diklaim mampu menghasilkan hingga 10 ton pipilan kering per hektare.
Suarakumandang.com, BERITA PONOROGO. Harapan meningkatkan produktivitas jagung sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional kembali muncul dari Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Ratusan petani mengikuti panen raya jagung varietas Reog 126 MTE 09, hasil pengembangan riset Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, diklaim mampu menghasilkan hingga 10 ton jagung pipilan kering per hektare.
Potensi produksi tersebut dinilai dapat menjadi salah satu alternatif meningkatkan produktivitas jagung nasional sekaligus mendukung target swasembada jagung Indonesia.
Panen raya berlangsung di Kecamatan Ponorogo, Kabupaten Ponorogo, Kamis siang. Sejumlah petani dari berbagai wilayah turut turun langsung memanen jagung Reog 126 MTE 09 sekaligus melihat performa varietas hasil penelitian ITS.
Tanaman jagung dipanen tampak tumbuh baik, dengan bonggol relatif utuh serta butiran padat dan kering. Kondisi tersebut menarik perhatian petani untuk melihat langsung hasil pengembangan benih di lahan pertanian.
Salah satu petani, Manto Setiawan, mengatakan varietas tersebut menunjukkan hasil menjanjikan setelah ditanam di lahan Ponorogo. Menurutnya, Reog 126 mampu menghasilkan sekitar 10 ton pipilan kering per hektare.
“Varietas baru ini hasil riset kampus ITS. Saya tanam di Ponorogo dan hasilnya sangat luar biasa,” ujar Manto.
Manto menyebut, produktivitas bahkan berpotensi meningkat hingga sekitar 12,7 ton per hektare apabila pengelolaan dan perawatan tanaman dilakukan secara optimal. Ia juga mengatakan potensi varietas tersebut telah diuji Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo.
Sementara itu, peneliti ITS Prof. Muryono menegaskan pengembangan varietas MTE 09 tidak berhenti pada hasil panen kali ini. Penelitian dan evaluasi akan terus dilakukan untuk mendapatkan varietas jagung semakin produktif, adaptif, serta sesuai kebutuhan petani.
Menurut Muryono, produktivitas sekitar 10 ton per hektare menjadi salah satu keunggulan varietas tersebut. Angka itu lebih tinggi dibandingkan rata-rata produktivitas jagung hibrida di kisaran tujuh ton per hektare.
“Di aplikasi Ponorogo ini terbukti sekitar 10 ton per hektare. Kalau bisa diimplementasikan kepada petani di Indonesia, mudah-mudahan ke depan dapat mendukung swasembada jagung,” jelasnya.
Namun, peningkatan produksi dinilai harus diikuti kesiapan sektor hilir. Kepastian penyerapan hasil panen dan harga menguntungkan petani menjadi bagian penting agar peningkatan produktivitas benar-benar memberikan dampak bagi keberlanjutan usaha tani.
Panen raya di Ponorogo ini sekaligus menunjukkan inovasi pertanian tidak cukup berhenti di laboratorium. Hasil riset perlu diuji di lahan, diterapkan petani, dan dibuktikan melalui produktivitas panen.
Di tengah upaya memperkuat ketahanan pangan, pengembangan varietas jagung produktif dan adaptif diharapkan mampu menjadi salah satu kunci menjaga ketersediaan pangan sekaligus mendorong terwujudnya swasembada jagung nasional.”..
Jurnalis: Priyam.