SKI News

Diduga Mengidap Asam Lambung Akut, Lu’lu Berjuang Besarkan Empat Anak hingga Akhir Hayat

Published

on

Suasana rumah duka Lu’lu Atunni’mah (38), ibu empat anak asal Desa Jebeng, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, diselimuti kesedihan setelah kepergiannya pada Sabtu (17/10/2026). Kepergian Lu’lu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga serta empat anaknya.

Suarakumandang.com, BERITA PONOROGO. Kisah pilu Lu’lu Atunni’mah (38), ibu empat anak asal Desa Jebeng, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, masih menyisakan duka mendalam.

Perempuan itu meninggal dunia di atas sepeda motor saat membonceng anak bungsunya berusia 3,5 tahun.

Di balik kepergiannya, tersimpan perjuangan seorang ibu membesarkan empat anak seorang diri setelah suaminya meninggal dua tahun lalu.

Lu’lu diduga meninggal akibat penyakit asam lambung. Berdasarkan keterangan sejumlah warga, ia telah lama mengalami gangguan kesehatan tersebut. Namun, Lu’lu jarang mengeluhkan kondisinya di tengah tanggung jawab besar memenuhi kebutuhan keluarga.

“Dari pemeriksaan awal tim medis, memang korban meninggal di atas sepeda motor karena sakit. Arahnya asam lambung,” kata Kapolsek Slahung AKP Pitoyo saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (20/10/2026).

Ahmad Iqdam Muslihudin, guru sekaligus tetangga korban, mengaku pernah mendengar Lu’lu menderita asam lambung.

Namun, ia tidak mengetahui secara pasti kondisi kesehatan korban karena Lu’lu hampir tidak pernah bercerita mengenai sakitnya.

“Mungkin karena beliau memiliki tanggung jawab besar menafkahi empat anaknya masih sekolah. Jadi seakan-akan tidak pernah mengeluh sakit,” tuturnya.

Di mata warga, Lu’lu dikenal sebagai perempuan pekerja keras. Sejak suaminya, Samsudin, meninggal dunia sekitar dua tahun lalu akibat sakit, ia berjuang menghidupi keempat anaknya, semuanya laki-laki dan masih berusia sekolah.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Lu’lu berjualan daun pisang ke sejumlah warung makan. Ia juga mencari penghasilan tambahan dengan berdagang es serut.

“Sejak kehilangan suami, Lu’lu berjuang membesarkan keempat anaknya laki-laki semua dan masih berusia sekolah. Meski dibantu keluarga mendiang suaminya,” jelas Iqdam.

Perjuangan itu berakhir pada Sabtu (17/10/2026). Saat itu, Lu’lu mengendarai sepeda motor sambil membonceng anak bungsunya untuk berobat ke bidan di Desa Gombang.

Di tengah perjalanan, ia mengaku merasa tidak enak badan, kemudian menghentikan sepeda motornya.

Dalam kondisi tersebut, Lu’lu akhirnya meninggal dunia di atas sepeda motor, disaksikan anak bungsunya berusia 3,5 tahun. Peristiwa itu menyisakan kesedihan mendalam bagi keluarga dan warga sekitar.

Kini, keempat anak Lu’lu berada dalam pengasuhan keluarga. Pendampingan keluarga menjadi penting agar kebutuhan sehari-hari mereka tetap terpenuhi dan pendidikan terus berlanjut meski telah kehilangan kedua orang tua.

Kisah Lu’lu menjadi gambaran perjuangan seorang ibu dalam membesarkan anak-anaknya di tengah keterbatasan.

Ia terus bekerja demi masa depan buah hatinya, bahkan saat kondisi kesehatannya diduga semakin memburuk. *…

Jurnalis: Priyam.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version