SKI feature

Di Balik Muscab PKB Magetan: Dari 5 Nama ke 3 Kandidat, Suratno Menguat

Published

on

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Di bawah atap rumah joglo teduh di kawasan Tawanganom, Musyawarah Cabang (Muscab) Partai Kebangkitan Bangsa Kabupaten Magetan, Sabtu (4/4/2026), digelar dalam suasana sekilas tampak santai.

Kursi tertata rapi, obrolan ringan terdengar di sela agenda, dan senyum para kader mengisi ruangan.

Namun di balik nuansa tradisional adem itu, dinamika politik justru terasa “menghangat”.

Ratusan kader dari berbagai wilayah hadir. Mereka datang bukan sekadar memenuhi undangan, tetapi membawa harapan bahkan ekspektasi tentang arah kepemimpinan partai ke depan.

Awalnya, lima nama masuk dalam bursa calon Ketua DPC: Kelvin Kusuma Wardana, Agus Dwi Wibowo, Riyin Nur Asiyah, Suratno, dan Andri Wahyu Utomo.

Seiring jalannya musyawarah dan tarik-ulur aspirasi dari 18 Pimpinan Anak Cabang (PAC), peta mulai berubah.

Lima nama itu mengerucut menjadi tiga kandidat: Agus Dwi Wibowo, Riyin Nur Asiyah, dan Suratno.

Di sinilah suhu mulai terasa naik. Diskusi-diskusi kecil bermunculan di sudut ruangan.

Beberapa kader tampak serius berbincang, sebagian lain memilih mengamati. Semua bergerak dalam satu irama: membaca arah.

Dan arah itu perlahan menguat pada satu nama Suratno, atau akrab disapa Kang Ratno.

Dukungan terhadapnya bukan tanpa alasan. Dalam satu periode terakhir, ia dinilai mampu menjaga soliditas internal sekaligus mendongkrak capaian politik partai.

Target tujuh kursi DPRD berhasil dilampaui menjadi delapan kursi angka cukup memberi legitimasi di tingkat kader.

“Kalau dilihat dari kinerjanya, ya wajar kalau banyak kembali mengarah ke beliau,” ujar salah satu kader muda hadir, sembari tetap enggan disebutkan namanya.

Suara lain datang dari salah satu Ketua PAC menilai kepemimpinan Kang Ratno membawa perubahan signifikan.

“Selama beliau memimpin, PKB di Magetan makin solid. Komunikasi jalan, kader juga merasa dirangkul. Harapannya bisa lanjut,” katanya.

Namun, di tengah menguatnya dukungan tersebut, muncul kesadaran sama di antara kader: keputusan belum benar-benar di tangan mereka.

Sebab, hasil Muscab bukanlah akhir. Penetapan Ketua DPC tetap berada di tangan Dewan Pimpinan Pusat (DPP), melalui tahapan uji kompetensi dan kelayakan.

Di titik ini, suasana semula hangat terasa berubah menjadi penuh tanda tanya.

Apakah suara dari bawah benar-benar akan menjadi penentu.

Atau hanya menjadi bagian dari prosedur sebelum keputusan akhir ditetapkan di tingkat pusat.

Kang Ratno sendiri memilih tetap fokus pada pesan lebih luas.

“Insyaallah, kami ingin membawa Magetan lebih hijau, damai, dan semakin berpihak kepada masyarakat,” ujarnya.

Di tengah dinamika terjadi, Muscab ini bukan hanya tentang siapa akan memimpin. Ia menjadi ruang pertemuan antara harapan kader, realitas mekanisme partai, dan arah politik ke depan.

Kehadiran Bupati Magetan Nanik Endang Rusminiarti dan sejumlah tokoh daerah lainnya menegaskan bahwa forum ini memiliki arti strategis, bukan hanya bagi internal partai, tetapi juga bagi konstelasi politik lokal.

Dengan modal delapan kursi DPRD, PKB Magetan berada di posisi yang cukup kuat.

Namun seperti diakui banyak kader, kekuatan itu harus dijaga dengan konsistensi, bukan sekadar angka.

Di bawah joglo yang tetap terasa sejuk, dinamika Muscab perlahan mereda. Namun satu hal belum benar-benar usai.

Dari lima nama, mengerucut menjadi tiga, lalu mengarah pada satu figur kuat alur sudah terbaca.

Tapi keputusan akhir masih menggantung.

Kini, bukan lagi soal siapa paling kuat di forum, melainkan siapa akan mendapat restu di tingkat pusat.

Dan untuk itu, semua mata masih tertuju ke DPP.

Jurnalis: Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version