SKI Artikel

Belanda Melesat, Indonesia Berbenah: Transportasi Publik Bukan Sekadar Urusan Rel, tetapi Visi Pemimpin

Published

on

Suprawoto menikmati perjalanan menggunakan kereta api di Belanda. Tak sekadar berlibur, perjalanan ini menjadi kesempatan mengamati langsung sistem transportasi publik Negeri Kincir Angin, mulai dari kenyamanan, ketepatan waktu, hingga integrasi antarmoda. Pengalaman tersebut menjadi bahan refleksi sekaligus pembelajaran bagi pengembangan transportasi publik di Indonesia

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Bagi warga Belanda mulai anak-anak sampai orang dewasa, sudah biasa menggunakan transportasi umum. Bahkan transportasi umum di Belanda sangat ramah bagi siapa saja mulai dari anak-anak, orang tua yang menggunakan kursi listrik khusus dan difabel.

Semua warga mempunyai hak mendapat pelayanan yang baik dari pemerintahnya. Dan pemerintah dalam membuat kebijakan selalu berorientasi untuk kebaikan masyarakat dan negaranya.

Mulai dari warga yang pakai kursi roda listrik, dengan mudah bisa berjalan lewat pedestrian yang sangat ramah bagi siapa saja. Demikian juga ketika sampai di halte baik itu pemberhentian bus maupun trem pemakai kursi kendaraan listrik dengan mudah masuk transportasi umum tersebut.

Dan ketika sudah di dalam transportasi umum seperti sudah ada etika. Anak-anak, ibu hamil, ibu membawa anak kecil, orang tua serta difabel mendapat tempat utama atau prioritas dan juga sudah ada tempat tersendiri. Semua penumpang sepertinya sudah saling memahami.

Demikian juga di stasiun kereta yang terintegrasi dengan berbagai moda transportasi, semua bisa diakses oleh siapa saja. Kereta metro yang menghubungkan antar kota kecil di Belanda juga mulai masuk di stasiun sampai masuk ke kereta bisa diakses siapa saja tanpa bantuan siapa pun.

Bayangkan mau naik antar lantai karena berganti moda, pasti ada lift khusus serta petunjuk arah yang jelas. Demikian juga kalau mau masuk ke kereta, antara bibir lantai stasiun dengan pintu kareta seperti rata kalau ada renggangnya tidak membahayakan anak maupun pengguna kursi roda. Kereta antar kota yang lebih dikenal dengan intercity (tidak setiap stasiun kecil berhenti) kebanyakan keretanya bertingkat, juga gampang diakses siapa saja.

Ketika naik kereta intercity, saya merenung sambil melihat pemandangan ke luar jendela ladang-ladang pertanian yang demikian hijau di awal musim gugur, saya terus berguman betapa bagusnya transportasi umum di Belanda. Mulai dari desa sampai di kota semua mendapat akses yang mudah.

Yang menjadi pertanyaan saya kemudian, mengapa Indonesia dulu dijajah sekian lama oleh Belanda dan cara membangun transportasi publik di Hindia Belanda juga hampir sama dengan negara Belanda, tetapi Belanda menjadi seperti saat ini, sedang di Indonesia tertinggal jauh dengan Belanda. Sedang Indonesia setelah merdeka yang memegang dan pengambil keputusan justru bangsa sendiri, mengapa tidak justru semakin baik.  

Di Belanda kereta pertama diresmikan pada tanggal 20 September 1839 yang menghubungkan Amsterdam-Haarlem. Sedang di Hindia Belanda kereta pertama diresmikan pada tanggal 17 Juni 1864 yang menghubungkan Semarang-Tanggung (Grobogan).

Dengan demikian hanya berjarak sekitar 25 tahun antara pembangunan kereta api di Belanda dan di tanah jajahannya. Kalau dihitung dan dinilai pada masa itu pembangunan kereta api di Belanda dengan Hindia juga tidak terlalu jauh, mengingat transportasi antara Eropa dan Hindia Belanda juga masih cukup sulit.  

Setelah itu pembangunan jalur kereta api terus dibangun, bahkan sampai di pelosok-pelosok pulau Jawa. Demikian juga di pulau Madura serta Sumatra. Bahkan kereta listrik juga mulai diperkenalkan di Hindia Belanda pada tahun 1925 di Batavia. Kemudian juga dibangun di Surabaya. Dua kota besar sejak era Hindia Belanda sudah mengikuti perkembangan transportasi modern saat itu.

Namun sayang sekali, banyak jalur kereta api yang tidak malah bertambah, tetapi banyak yang mati atau dimatikan. Seperti kereta api di Madura, Aceh dan berbagai wilayah lainnya di Jawa. Bahkan kereta listrik yang dulu melayani warga dalam kota di Jakarta dan Surabaya sengaja dimatikan. 

Setelah itu dibangun infrastruktur berbagai kota-kota Belanda sehingga sampai saat ini justru kereta menjadi saka guru transportasi publik warganya. Saya kemudian hanya bisa berandai-andai, kalau dulu pengambil keputusan di negeri ini punya visi, transportasi publik di Indonesia pasti tidak kalah terlalu jauh sistemnya dengan di Belanda misalnya, karena cikal bakalnya sama.

Saya kemudian jadi ingat buku John Perkins yang berjudul The Secret History of The American Empire yang kalau diterjemahkan dalam buku bahasa Indonesia “Pengakuan Bandit Ekonomi.” Bagaimana negara-negara kapitalis mempengaruhi pengambil kebijakan di negara berkembang khususnya di Indonesia.

Berbagai cara dilakukan untuk pengambil kebijakan. Mulai dari penyuapan sampai dengan penyediaan wanita. Bahkan melalui ancaman. Dengan cara itulah akibatnya kebijakan yang diambil para penguasa bisa jadi justru tidak malah menguntungkan masyarakat Indonesia, namun justru sebaliknya.

Sangat penguntungkan perusahaan/negara yang membiayai operasi John Perkins tersebut. Tentu saja sudah semestinya saat ini kita bisa berkaca dan belajar dari berbagai kebijakan pemerintah kita sebelumnya. Kalau itu buruk jangan diulang.

Pada jaman penjajahan Belanda, Hindia Belanda pernah menjadi pengekspor gula terbesar nomor dua di dunia. Malahan pada waktu saya masih kecil sekitar tahun 1960-an pabrik-pabrik gula masih jaya. Bahkan rendeman gula bisa mencapai 14 persen.

Sebuah pencapaian rendemen gula tertinggi yang tidak bisa dicapai lagi sampai saat ini. Bahkan saat ini rata-rata rendemen gula di Indonesia hanya berkisar antara 5-7,5 persen. Separo dari masa penjajahan Belanda.

Saya sering berkelakar, bayangkan setelah Indonesia merdeka dan setelah Indonesia berdaulat perusahaan tersebut diambil pemerintah Indonesia. Kemudian yang memegang semua pimpinan mulai tingkat bawah sampai puncak pengambil kebijakan jajaran bangsa sendiri.

Bahkan yang memegang pimpinan merupakan para sarjana di bidangnya. Tetapi mengapa kondisinya malah tidak semakin baik tetapi semakin terpuruk. Bahkan saat ini kita harus impor gula jutaan ton setiap tahunnya.

Demikian juga kereta api yang dulu pada masa penjajahan menjadi alat moda transportasi darat utama di Hindia Belanda. Tak mengherankan bila jangkuan jalur kereta api sampai pelosok kota. Namun sayangnya panjang jalur kereta di Indonesia masih kalah dengan masa Hindia Belanda dulu. Bahkan panjang jalur kereta justru semakin berkurang.

Kebijakan pemerintah kita pascakemerdekaan justru tidak ramah bagi pengembangan transportasi publik massal. Justru lebih mengedepankan kenderaan pribadi. Hal ini bisa dilihat pada waktu Indonesia masih dalam massa bulan madu minyak.

Pada waktu itu Indonesia merupakan salah satu negara anggota OPEC, yang setiap tahun bisa mengekspor minyak ke berbagai negara. Sebagai negara pengekspor minyak, maka sejak tahun 1962 Indonesia menjadi anggota OPEC.

Sebagai negara pengekspor minyak, pada waktu itu mestinya para pengambil kebijakan harus berpikir bahwa sumber daya alam minyak itu pada waktunya akan habis. Dan bisa diperkirakan kapan habis dan kebijakan apa yang mesti dilakukan.

Kalau waktu negara kita masih bulan madu dengan minyak, yang diberikan susbsidi bukan minyaknya sehingga masyarakat didorong menggunakan transportasi publik yang terus dikembangkan oleh pemerintah.

Tentu saat ini hasilnya akan lain. Yang terjadi justru sebaliknya, subsidi BBM waktu itu terus diberikan (harga BBM sengaja dibuat murah tidak sesuai harga keekonomian) yang mengakibatkan konsumsi bahan bakar tinggi karena penggunaan mobil pribadi dan kendaraa bermotor terus meningkat. Dan hasilnya transportasi publik tertingal jauh.

Bahkan mungkin kalau pengambil kebijakan waktu itu punya visi jauh ke depan, mengedepankan pembangunan transportasi publik dibandingkan memberikan subsidi BBM hasilnya tentu transportasi publik dengan Belanda minimal tertinggal tidak terlalu jauh karena berangkatnya juga hampir sama.

Pikiran jelek saya kemudian muncul bisa jadi kebijakan pemberian subsidi BBM waktu itu yang dipilih bukan mengembangkan transportasi publik karena operasi John Perkins. 

Sebenarnya transportasi di negara Belanda terasa mahal bagi kita yang nilai tukar rupiah dibandingkan denga Euro sangat jauh. Dan bagi warga negara Belanda sendiri sebenarnya transportasi publik juga relatif mahal. 

Namun banyak sekali skema-skema yang dapat dilakukan oleh warga Belanda untuk berhemat. Untuk bus warga Belanda biasanya transportasi publik ini digunakannya di dalam kota bisa berhemat dengan berlangganan atau berbagai siste yang ditawarkan.

Dan transportasi bus ini tidak hanya di kota tetapi juga digunakan oleh warga Belanda yang tinggal di pinggiran desa. Dan bus ini rutenya bisa menghubungkan antar komunitas atau desa. Dan bus ini selalu didesain rutenya pasti melewati stasiun kereta, baik itu stasiun metro maupun stasiun intercity.

Namun hanya bus yang ada di perdesaan atau pinggiran ini lewatnya agak lama intervalnya, sejam sekali. Tetapi bus ini tetap efektif dignakan warga karena jamnya bisa dipastikan lewat halte dekat rumah warga misalnya jam berapa bus datang gampang diakses melalui online. 

Demikian juga bus yang ada dalam kota, jamnya juga tertera jelas di monitor yang dipasang di halte-halte bus. Kita bisa lihat kebiasaan warga Belanda, waktu bus datang seperti penumpang tahu semua baik bus yang ada di perdesaan maupun yang ada di kota para penumpang pada datang beberapa saat sebelum bus datang.

Bayangkan kalau bus tidak jelas jadualnya, bersamaan waktunya musim dingin tentu penumpang akan jengkel dan tersiksa. Kalau jamnya jelas, tentu warga bisa menentukan kapan akan keluar menunggu di halte.

Pada waktu saya dulu masih bekerja di Jakarta pernah ngobrol dengan teman-teman pejabat di departemen/kementerian kemudian saya punya usul bagaimana kalau membuat semacam aplikasi (yang membuat dan memelihara pemerintah pusat) yang bisa digunakan dan dikembangkan oleh pemerintah daerah, sehingga pemerintah daerah bisa memberi subsidi ke trasportasi publik di wilayahnya.

Dan transportasi publik tersebut kemudian melayani masyarakat di wilayahnya masing-masing dengan jam yang pasti. Taruhlah seperti semacam Trans Jogja namun berada di kota/kabupaten dengan aplikasi yang disediakan pemerintah pusat tersebut kemudian warganyadi masing-masing daerah bisa mengakses dengan mudah.

Namun sayang, karena saya tidak punya kewenangan untuk eksekusi, usul saya ya sekedar usul. Pada akhirnya transportasi publik yang dikembangkan oleh pemerintah daerah berjalan sendiri-sendiri dan tampak seperti kebijakan yang sekedar menggugurkan kewajiban saja.

Artinya yang penting sudah menganggarkan untuk subsidi transportasi publik bagi warganya, seperti kendaraan untuk sekolah yang jadualnya tidak jelas sehingga efektivitasnya juga tidak maksimal.

Transportasi publik di Indonesia yang sudah berjalan dengan lumayan baik, menurut hemat saya baru Jakarta. Tak mengherankan bila kota besar lainnya di Indonesia kurang jelas transportasi publik ke depan mau di bawa ke mana.

Naik kereta di Belanda sangat mudah. Jadualnya juga sudah pasti selalu on time. Antar moda transportasi saling terintegrasi. Suatu misal saya mau mengantar cucu saya vaksinasi BCG ke klinik pemerintah yang telah ditunjuk.

Karena vaksin ini bagi warga Belanda bukan vaksin yang diwajibkan, karena di Belanda tidak merupakan negara yang beresiko TBC, maka hanya berlaku bagi warga non Uni Eropa. Hanya pemerintah menyediakan sarananya bagi warga yang sering bepergian ke negara beresiko seperti kalau sering ke Indonesia sangat perlu vaksin BCG.

Dari rumah anak saya di Berkel (gemeente Lansingerland) kalau ke klinik di Roterdam bisa naik bus di halte dekat rumah ke stasiun metro sekitar 1,5 Km. Atau naik sepeda dan sepeda diparkir di stasiun. Atau cukup jalan kaki saja. Kalau saya sering memilih jalan kaki sambil olahraga serta melihat rumah di Belanda yang tertata rapi serta melihat pemandangan kanal-kanal yang bersih serta bebek Belanda yang berenang tidak takut manusia.

Naik Metro juga cukup singkat ke Roterdam sekitar 20 menit, kemudian disambung naik trem (stasiun central terintegrasi) turun dari trem jalan sekitar 200 meter sudah sampai klinik. Demikian juga ketika kembali.

Sangat efisien dan memudahkan warga untuk bepergian di Belanda. Dan kalau mau pergi antar kota atau antar negara juga mudah, cukup ke stasiun central Roterdam kemudian menuju berbagai kota negara di Eropa.

Indonesia beruntung, PT KAI berbenah dan hasilnya kita lihat saat ini. Saya jadi ingat ketika tahun 2005 diminta Pak Sofyan A Djalil sebagai menteri Kominfo untuk pindah promosi sebagai eselon Ia di Jakarta.

Selama dua tahun saya menjadi tahu cara berpikir beliau selama menjadi atasan saya. Dua tahun sebagai menteri Kominfo, terjadi perubahan susunan kabinet SBY-JK saat itu tahun 2009 Pak Sofyan A Djalil dipindah menjadi menteri BUMN.

Selama menjadi menteri BUMN beliau banyak melakukan perubahan-perubahan di kementeriannya. Salah satunya, menarik banyak para manager di perusahaan swasta yang dianggap kompeten untuk memimpin perusahaan negara yang dianggap amburadul. Salah satunya PT KAI.

Bayangkan PT KAI saat itu kondisinya sangat buruk. Transportasi publik tersebut sudah pelayanannya juga sangat buruk dan juga selalu mencatatkan kerugian besar setiap tahunnya.

Bagaimana tidak layanan tidak buruk. Pedagang, pengemis, pengamen bisa masuk di kereta komuter Jakarta. Penumpang naik ke atap gerbong sudah menjadi pemandangan sehari-hari.

Berbagai cara dilakukan, sampai atap gerbung diberi kawat berduri tetapi penumpang di atas atap tetap membludak setiap berangkat dan pulang kerja. Demikian juga stasiun wajahnya suram, kotor dan penumpang tidak tertib.

Untuk kereta jarak jauh dan antar kota, sering terlambat. Banyak penumpang gelap dengan membayar kepada kondektur di atas gerbong. Pedagang juga bisa masuk kereta.  Apalagi kalau hari raya Idhul Fitri, pasti terjadi penumpukan penumpang. Belum yang namanya calo tiket banyak bergentayangan di setiap stasiun. Betul-betul kondisi perkeretaapian di Indonesia pada saat itu sangat buruk.

Kondisi PT KAI mulai berubah sejak dipegang oleh Ignasius Jonan. Sebelunya Jonan merupakan salah satu manager di bank swasta. Oleh Menteri BUMN Sofyan A Djalil diminta untuk memimpin PT KAI. Ketika pertama kali masuk menjadi Dirut PT KAI banyak orang menyangsikan kemampuannya.

Bagaimana mungkin orang yang tidak mengerti kereta api tiba-tiba harus memimpin PT KAI. Namun kosistensi dan ketegasan setiap keputusan segera merubah kinerja PT KAI. Gerbong-gerbong kereta semua diberi AC. Stasiun disterilkan dari yang tidak berkepentingan. Memakai sistem boarding seperti naik pesawat. WC stasiun dibuat bersih dan baik.

Demikian juga KRL, dibersihkan dari asongan, pengamen dan pengemis. Tiket KRL dibuat elektronik. Jam keberangkatan KRL ditambah semakin banyak. Wajah stasiun dipermak semakin cantik. Kejadian menarik waktu Jonan mau memperluas akses penumpang di Stasiun UI Depok. Banyak pedagang yang ditertibkan, kemudian marah. Kemarahan pedagang dilampiaskan dengan melakukan demo besar-besaran yang didukung juga oleh mahasiswa UI utamanya.

Namun Jonan tetap teguh kepada keputusannya. Pada akhirnya Stasiun UI Depok dapat ditata menjadi baik seperti saat ini yang sebelumnya amburadul.

Demikian juga penataan di berbagai stasiun lainnya banyak menemui perlawanan. Namun Jonan tetap teguh berjalan. Tidak ragu menjalankan keputusan yang telah dibuatnya. Saya tidak bisa membayangkan kalau seorang pemimpin tidak memiliki pendirian hanya mencari aman pasti tidak akan terjadi perubahan.

Tekanan tidak hanya dari sebagian masyarakat yang merasa kepentingannya hilang ketika PT KAI melakukan perubahan. Seperti ang terjadi di saat hari raya Idhul Fitri, Jonan tetap menerapkan tiket duduk tidak mentolerir tiket berdiri.

Tentu saja Jonan mendapat tekanan dari berbagai pihak. Termasuk DPR juga bersuara keras memberi tekanan kepada Jonan. Namun Jonan tidak bergeming. Tetap pada pendirian, tidak mentolerir tiket berdiri.

Akhirnya yang terjadi, baru mulai tahun itu yang namanya angkutan kereta api menjadi tertib dimulai di hari raya. Tahun-tahun sebelumnya peristiwa humanisme selalu terjadi di stasiun kereta setiap hari raya. Ada orang tua yang terpaksa berdiri di WC kereta, penumpang yang masuk lewat jendela, berdesakan di pintu dan peristiwa humanisme lainnya selalu menghiasi halaman media.

Saat ini pemandangan tertib selalu ada di wajah stasiun kereta. Tidak ada calo, tidak ada pedagang asongan, WC bersih, kereta bersih, dan selalu on time. Kereta api Indonesia yang dulunya amburadul seperti itu kasarnya, ternyata bisa berubah. Artinya komitmen pimpinan bila akan melakukan perubahan itu memegang peran paling utama di Indonesia. Salah satu contohnya PT KAI.

Siapa pun saat ini pasti bangga dengan PT KAI. Saat ini kalau ada unsur masyarakat yang menentang kebijakan PT KAI seperti sulit untuk mendapat dukungan masyarakat karena masyarakat sudah terlajur terlalu percaya dengan PT KAI.

Untuk membandingkan transportasi umum khususnya soal kereta Belanda dan Indonesia terus terang saya juga ikut bangga dengan kondisi kereta api di Indoneia. Pada bagian tertentu kita malahan lebih baik dengan kereta di Belanda.

Dan di bagian lainnya kita memang kalah dengan kereta api di Belanda. Dengan membandingkan tentu kita bisa terus memperbaiki kekurangan kita.

Kekalahan kereta Indonesia dibandingkan dengan kereta di Belanda menurut saya salah satunya adalah masalah kenyamanan. Kereta antar kota (intercity) di Belanda sangat nyaman. Getaran di kereta hampir tidak terasa.

Memang menurut hemat saya lebar rel kereta di Belanda lebih lebar dibandingkan kereta di Indonesia. Ukuran lebar rel di Belanda 1.435 mm sedang lebar rel di Indonesia 1.067 mm. Tentu pemilihan lebar rel di Indonesia banyak pertimbangan disesuaikan dengan kondisi alam Indonesia sehingga berakibat salah satunya kenyamanan.

Kereta di Belanda terasa lapang karena lebih lebar. Dan bahkan untuk kereta intercity banyak bertingkat. Ketika kereta berjalan cukup cepat sekitar 137 Km/jam gerbong kereta terasa tidak bergetar.

Demikian juga suara sambungan antar gerbong maupun suara roda bergesekan dengan rel juga hampir tidak terdengar. Ketika pergatian jalur rel juga hampir tidak terasa kalau kita tidak sengaja memperhatikannya.

Dari segi kualitas, gerbong-gerbong tempat duduk serta kualitas interior kereta di Belanda lebih bagus dan lebih kokoh. Nampak sekali kalau gerbong-gerbong dibuat dengan bahan yang sangat bagus.

Bandingkan dengan kereta di Indonesia, kalau kita perhatikan dengan lebih teliti kualitasnya masih kalah dengan kereta di Belanda. Contoh kecil sekali, yang namanya kunci pintu WC di kereta sudah cepat rusak. Demikian juga asesoris yang lain, seperti kran juga kurang bagus kualitasnya.

Namun, beberapa hal yang bisa membanggakan kita semua dan kereta Indonesia lebih bagus dari kereta Belanda. Pertama, Pelayanan kereta di Indonesia lebih bagus, mulai saat boarding sampai di kereta. Waktu boarding saja kita cukup scan wajah.

Dan kalau sudah di dalam kereta kondektur kereta di Indonesia tinggal ngecek lewat aplikasi tempat duduk sambil berjalan lewat begitu saja. Kalau di Belanda secara sampling kondektur ngecek semacam kartu elektronik (semacam e-tol) setiap penumpang melalui alatnya.

Kedua, kereta di Belanda tidak bisa pesan tempat duduk lewat aplikasi seperti kita. Di Belanda kalau naik kereta siapa yang dulu maka bisa memilih tempat duduk. Dengan demikian kita tidak bisa memilih misal dekat jendela, karena ingin melihat pemandangan sepanjang perjalanan.

Salah satu akibatnya, bisa saja suami istri harus duduk terpisah sepanjang perjalanan karena tidak bisa memilih tempat duduk tadi. Di Indonesia kita bisa memilih tempat duduk yang kita kehendaki.

Ketiga, kereta di Belanda kalau soal kebersihan menurut hemat saya masih kalah dengan kereta di Indonesia. Kereta di Indonesia untuk kereta jarak jauh setiap akhir perjalanan selalu dibersihkan sebelum berjalan kembali. Sedang untuk kebersihan di dalam kereta setiap saat ada petugas yang bertugas membersihkan. Demikian juga sampah juga selalu ada petugas yang mengumpulkan sampah.

Tak mengherankan kalau kebersihan kereta di Indonesia sampai dengan toiletnya bisa diandalkan. Sedang di Belanda tidak. Kereta yang warnanya kuning di luarnya itu penuh dengan debu yang agak menghitam.     

Dan sayangnya, transportasi publik di Indonesia saat ini yang bisa dibanggakan masih kareta yang dikelola oleh PT KAI. Mudah-mudahan transportasi publik lainnya juga semakin baik dan membanggakan.

Tentu kita tak perlu menunggu munculnya Jonan baru lainnya, karena kita semua sudah siap menjadi Jonan baru karena Pak Jonan sudah mencontohkannya, yang telah menyulap dari PT KAI yang seperti itu di bawah kepemimpinannya berubah menjadi sebaik ini. Bahkan di beberapa hal kereta kita lebih baik dengan kereta di Belanda. (bersambung).**

Oleh: Suprawoto

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version