SKI News

Air Makin Langka, 24 Daerah Jatim Krisis Bersih, Tiga Masuk Kering Ekstrem

Published

on

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyerahkan bantuan air bersih kepada warga terdampak kekeringan di Dusun Dungus, Desa Karangpatihan, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Sabtu (19/9/2026). Bantuan diberikan untuk memenuhi kebutuhan warga di tengah krisis air bersih akibat kemarau panjang.

Suarakumandang.com, BERITA PONOROGO. Krisis air bersih makin terasa di sejumlah wilayah Jawa Timur. Hingga pertengahan September 2026,

24 kabupaten/kota telah menetapkan status kedaruratan akibat kekeringan. Sebanyak 22 kabupaten di antaranya sudah mendapat dropping air bersih dari Pemprov Jatim.

Di tengah kondisi tersebut, warga Dusun Dungus, Desa Karangpatihan, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, rela mengantre demi mendapatkan air bersih.

Sedikitnya 34 kepala keluarga (KK) menerima bantuan air bersih saat Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa datang ke lokasi pada Sabtu (19/9/2026).

Warga, mayoritas emak-emak, datang membawa dua hingga empat jerigen. Mereka memanfaatkan bantuan tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari mencuci pakaian hingga mencuci peralatan rumah tangga.

Krisis air di kawasan itu disebut sudah dirasakan sekitar tiga bulan. Saat pasokan air tidak mengalir, warga terpaksa mencari sumber lain dengan jarak sekitar dua kilometer.

Sriani, warga terdampak, mengatakan kondisi sumur setempat sudah tidak bisa diandalkan untuk kebutuhan konsumsi.

“Bisa buat nyuci baju, nyuci piring. Sudah tiga bulan ini kekeringan. Kalau PDAM mengalir bisa dapat air, kalau tidak mengalir ya tidak dapat. Sumur ini biasanya untuk nyuci baju dan cuci piring. Kalau diminum tidak layak,” tutur Sriani.

Hal senada disampaikan Nur Farida. Ia mengaku mulai kesulitan memenuhi kebutuhan air sejak awal Agustus.

“Kalau tidak ada bantuan BPBD, kami cari ke mana-mana. Ada sumber air, tapi jauh, di sungai-sungai. Kurang lebih dua kilometer,” ujar Nur.

Sementara itu, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyebut 24 kabupaten/kota telah menetapkan status kedaruratan kekeringan.

Pemerintah melakukan sejumlah langkah penanganan, mulai distribusi air bersih, pengeboran sumur hingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Pemprov Jatim juga mengembangkan pencarian sumber air permanen. Selain pengeboran, opsi pembangunan embung dan waduk turut dikaji untuk memperkuat cadangan air.

Untuk OMC, Pemprov Jatim mulai menjalankannya sejak 3 September 2026 dengan menggandeng BMKG dan Kementerian Kehutanan.

Upaya tersebut diarahkan untuk memanfaatkan awan potensial agar hujan dapat turun di wilayah sasaran.

Data BPBD Jatim juga mencatat sejumlah daerah sudah menerima intervensi air bersih. Ponorogo termasuk daerah penerima distribusi tersebut.

Warga berharap penanganan tidak berhenti pada dropping air. Mereka membutuhkan solusi permanen, sebab persoalan air bersih kembali muncul setiap musim kemarau.**

Jurnalis: Priyam

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version