SKI News

AI Makin Dekat, Mahasiswa Baru UNESA Kampus 5 Magetan Diingatkan Jangan Sampai Otaknya Ikut “Auto-Pilot”

Published

on

Direktur Inovasi Pembelajaran Digital UNESA, Dr. Alim Sumarno, M.Pd., saat memberikan materi kepada mahasiswa baru dalam rangkaian PKKMB 2026 UNESA Kampus 5 Magetan.

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Kecerdasan buatan (AI) kini makin akrab dengan dunia pendidikan. Mahasiswa baru Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Kampus 5 Magetan pun mendapat bekal agar mampu memanfaatkan AI secara cerdas, kritis, serta tetap menjunjung etika akademik dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026, Rabu (19/8/2026).

Materi bertajuk “Digital Campus Transformation: AI, Literasi Digital, dan Etika Akademik” disampaikan Direktur Inovasi Pembelajaran Digital UNESA, Dr. Alim Sumarno, M.Pd.

Alim menjelaskan, AI kini telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Teknologi tersebut hadir melalui rekomendasi konten, asisten virtual, filter foto, hingga sistem navigasi real-time.

Kehadiran AI membuka banyak peluang bagi mahasiswa. Teknologi ini dapat membantu memahami konsep, menyusun kerangka tulisan, mencari referensi, mendukung kolaborasi, hingga meningkatkan produktivitas belajar.

Namun, kemudahan tersebut tidak boleh membuat mahasiswa kehilangan kemampuan berpikir kritis. Informasi dari AI tetap perlu diperiksa karena berpotensi mengandung bias maupun ketidakakuratan.

“Penggunaan AI di dunia Pendidikan menurut saya sangat penting, karena teknologi sekarang lebih maju jadi dengan adanya AI bisa membantu dalam proses pembelajaran,” ujar Nagita, mahasiswa baru peserta PKKMB.

Selain AI, mahasiswa juga mendapat pembekalan literasi digital serta keamanan data. Mereka didorong mampu mencari, menyaring, dan mengolah informasi secara kritis, menjaga data pribadi, sekaligus mengenali ancaman digital seperti phishing.

Mahasiswa juga diingatkan membiasakan diri memeriksa sumber informasi serta membandingkan sedikitnya dua sumber sebelum mempercayai atau menggunakan sebuah informasi.

Jejak digital turut menjadi perhatian. Setiap aktivitas di ruang digital dapat meninggalkan rekam jejak sehingga mahasiswa perlu lebih bijak sebelum mengunggah, membagikan, maupun menggunakan sebuah informasi.

Tak kalah penting, materi tersebut menyoroti integritas akademik. Kemudahan teknologi digital harus tetap berjalan bersama kejujuran serta tanggung jawab saat mengerjakan tugas, ujian, maupun penelitian.

Mahasiswa diminta menjauhi plagiarisme, menyerahkan hasil AI tanpa proses pengolahan, serta memanipulasi data penelitian. AI ditekankan sebagai alat bantu belajar, bukan mesin pengganti otak mahasiswa.

Wakil Ketua Panitia PKKMB 2026, Ade, mengatakan pemilihan materi serta narasumber telah dipersiapkan melalui riset agar pembekalan sesuai kebutuhan mahasiswa baru.

“Persiapan materi yang akan diberikan ke maba sudah direncanakan dengan matang. Kami melakukan riset dulu terhadap materi dan pemateri. Contohnya materi ini, kami menghadirkan langsung Bapak Alim selaku dosen bidang teknologi pendidikan. Kami mengupayakan sebaik mungkin agar maba menerima materi dari ahlinya,” ujar Ade.

Melalui pembekalan tersebut, mahasiswa baru diharapkan mampu mengikuti derasnya perkembangan teknologi tanpa kehilangan daya kritis.

Sebab, di era AI, mahasiswa bukan cuma dituntut melek teknologi, tetapi juga harus mampu membedakan informasi valid, menjaga keamanan data, serta tetap jujur dalam setiap proses akademik.*

Jurnalis: Tim Redaksi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version