Yulianto: Ini Alasan Bupati Minta Pilkades Serentak Memakai E-Voting

Iswahjudi Yulianto kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Permasdes) Kabupaten Magetan

Suarakumandang.com,BERITA MAGETAN. Suprawoto Bupati Magetan melalui Iswahjudi Yulianto kepala  Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Permasdes) Kabupaten Magetan, Jawa Timur dalam pemilihan kepala desa secara serentak di 184 desa meminta pemilihan kepala desa tahun 2019 dilaksanakan dengan cara e-voting.

“Sebelum bupati Magetan meminta pemilihan dengan cara e-voting, pemilihan kepala desa di kabupaten Magetan dilakukan dengan model Konvensional,”ujar Yulianto kepada jurnalis suara kumandang.

Dia juga mengatakan, nampaknya model Konvensional tersebut dipertimbangkan oleh bupati bahwa proses tersebut dinilai kurang efektif, banyak menimbulkan masalah, perhitungan kurang cepat.”Maka bupati mempertimbangkan IT-lah yang nanti perlu membantu yang dinilai tidak ada kecurangan dalam pemilihan kepala desa nanti,”kata Yulianto.

“Dalam pemilihan nanti dengan menggunakan e-voting pemilih tinggal datang dan memasukan atau menempelkan jari pada alat yang sudah disediakan oleh panitia pemilihan kepala desa. Semua jumlah langsung mengukur sendiri dan masuk didalam perhitungan komputer ,”terang Yulianto.

Sejauh ini,  yulianto belum mengetahui cara metode kerjasama dengan pihak yang mempunyai  alat system tersebut.

Secara teknis bagiamana Yulianto mengaku belum bisa memberikan komentar sebelum bertemu dengan pihak Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).”Kami baru bisa membuat rencana kegiatan tersebut setelah kami  bertemu yang mempunyai system,”papar Yulianto.

“Pada intinya system dengan menggunakan e-voting lebih efektif, pertimbangan datanya lebih valid tidak perlu kertas dan lain-lain,”ucapnya.

Sementara data pemilih pihak pemerintah langsung mengambil dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Magetan (Disdukcapil).”Data pemilih langsung dikirim dari Disdukcapil yang ada itu,”terang Yulianto.

Saat disinggung terkait anggaran yang akan digunakan untuk alat pemilihan kepala  desa  yang berjumlah 184 menurut Yulianto belum tentu akan lebih besar bila dibandingkan dengan pemilihan kepala desa dengan menggunakan cara model Konvensional atau sebelumnya.

”Dengan cara model e-voting kemungkinan anggaran bisa lebih kecil. Cuman kita belum tahu medotenya bagaimana, maka dari itu kita perlu komunikasi dengan yang memiliki alat tersebut,”imbuhnya.

“Soal alat apakah pihak kita  menyewa, pengadaan alat, atau mungkin kita hanya dipinjami, atau mungkin beli alat baru, semua itu metodenya kita belum tahu sampai saat ini, dan ini masih kita komunikasikan,”kata Yulianto lagi.

Sebelum system e-voting  menjadi pilihan  bupati pemerintah telah menganggarkan uang sebanyak  Rp 7,8 miliyar.

Sementara itu, dengan system e-voting bupati mempunyai program berkelanjutan  yang  diharapkan data-data desa nanti harus berbasis IT.” Ini menjadi penting bagi bupati untuk jangkuan jauh kedepan,”pungkasnya.

Jurnalis: Cahyo Nugroho.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.