Tanah Longsor Di Ponorogo, Satu Keluarga Tewas Saat Panen Jahe

DUKA:Dwi Ariska (kaos warna kuning) nampak jelas raut wajah yang sedih ketika satu keluarganya hilng di terjang longsor di dukuh Tangkil, Desa Banaran,Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur pada hari Sabtu, (01/04/2017) kemarin

DUKA:Dwi Ariska (kaos warna kuning) nampak jelas raut wajah yang sedih ketika satu keluarganya hilng di terjang longsor di dukuh Tangkil, Desa Banaran,Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur pada hari Sabtu, (01/04/2017) kemarin

Ponorogo. Suarakumandang.com – Tanah longsor yang terjadi di dukuh Tangkil, Desa Banaran,Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur pada hari Sabtu, (01/04/2017) kemarin telah banyak mengundang kisah yang menyedihkan. Dalam peristiwa ini satu keluarga tertimbun tanah longsor saat panen jahe bersama 14 korban lainnya.

Dari sekian korban tanah longsor yakni Dwi Ariska (18) hingga saat ini masih dalam keadaan shock,  karena satu keluarga yang dicintai hilang diterjang longsor. “Pas kejadian tanah longsor, suami dan kedua orang tua sedang panen jahe, sedangkan saya berada di tempat pengungsian bersama anak saya,”katanya.Sabtu,(01/04/2017).

Kedua orang tua Dwi Ariska yakni bernama Pujianto (50), Siyam (45) dan suami bernama Sumaryono (23). Mereka tertimbun tanah longsor ,hingga sampai saat ini pada  hari kedua Minggu, (02/04/2017) ketiganya belum diketemukan.

Saat ini Dwi Ariska bersama korban lainnya telah mengungsi di rumah kepala Desa Banaran. Karena daerah di dukuh Tangkil, Desa Banaran,Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo merupakan pengunungan, maka Dwi Ariska  bersama anaknya bernama Umairah yang masih berumur 3,5 bulan ini harus berjuang melawan diingin.

Dwi Ariska bersama korban lainnya mengaku sangat membutuhkan bantuan berupa selimut .”Disini dingin, anak kami butuh selimut yang tebal,”ungkapnya.

Dwi menceritakan,sebenarnya sebelum kejadian semua warga  sudah diungsikan tak terkecuali kedua orang tua dan suami saya, namun pada saat kejadian, satu jam sebelum  kejadian pamit mau memanen jahe.”Tak diduga,  pagi itu, satu jam kemudian longsor besarpun terjadi,”sedihnya.

Tak diduga tanah yang awalnya sudah longsor sejak 3 minggu lalu, tiba-tiba longsor besar dan menerjang sejumlah rumah.”Kejadian pagi hari, longsor susulan ini suaranya sangat keras dan menakutkan,”jelasnya.

Sarnu Kepala Desa Banaran, Kecamatan Pulung mengatakan, saat ini dari pihak pemerintah sudah memberikan bantuan berupa pakian, makanan, serta pengobatan dari  pihak medis.”Sementara yang mengungsi di rumah saya dan tetangga saya keseluruhan berjumlah 31 pengungsi,”ucapnya.

“Kalau melihat kondisi pengungsi  mereka  kekurangan pakaian dan bahan makanan, karena di pengunungan mereka sangat membutuhkan selimut, satu lagi yang sangat dibutuhkan disini yakni penerangan, ”terangnya.

Sarni menjelaskan, sebelum kejadian tanah longsor ada 16 orang sedang melakukan panen jahe, dari 16 tersebut ada satu keluarga yang terjebak tanah longsor , hingga sampai saat ini mereka belum diketemukan.”Mereka adalah sepasang suami istri Pujianto dan Siyam, dan suaminya Dwi Ariska  bernama Sumaryono,”pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, dari  tim gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, PMI, relawan dan elemen masyarakat lainnya sedang melakukan proses evakuasi longsor.Cahyo.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.