Pasutri Asal Magetan Purna Tugas Dari PNS Tetap Produktif dengan Sambel Pecelnya

Magetan.Suarakumandang.com- Setiap orang pastilah mendambakan hidup berkecukupan (konteksnya tidak kekurangan apapun), apalagi sebagai pekerja yang nanti di akhir masa baktinya dapat menikmati hasil jerih payahnya ketika dia masih bekerja.

 

Memasuki masa pensiun bukan berarti akhir dari karir Anda. Anda bisa tetap berkarya dengan mempersiapkan pilihan bisnis sebelum pensiun. Sangat banyak pilihan bisnis yang bisa anda lakukan di masa pensiun. Apa saja pilihan bisnis bagi pensiunan?

Masa pensiun bukanlah halangan bagi semua orang untuk berhenti bekerja dan menghasilkan uang. Ada berbagai pilihan bisnis/ peluang usaha yang bisa anda geluti saat pensiun. Akan tetapi saking banyaknya pilihan bisnis, semua orang sering kali bimbang dalam menentukan pilihan bisnis apa yang cocok baginya.

Seperti pasangan suami istri ini, mereka tidak binggung untuk menetukan pilihan setelah purna tugas sebagai pengawai Negeri Sipil (PNS) di pemerintah Kabupaten Magetan.

Berikut liputannya:

Hanya bermodal ilmu dan ketrampilan yang didapat saat  masih aktif di pemerintahan, ibu tiga anak ini,  2 tahun sebelum menjelang pensiun sudah mulai menawarkan sambel pecel buatannya ke toko maupun ke warung makanan. Dia melakukan itu saat jam istirahat kantor. “ Saat jam istirahat kantor, saya sempatkan keluar lalu menawarkan sambel pecel buatan saya ke toko-toko,”ujar Sundari.

 

“ Rata-rata saya bawa 5 sampai 10 sambel kacang isi 500 gram. Usaha menjual sambel kacang saya tawarkan keluar masuk toko, untuk awal sambel kacang saya titipkan sekaligus contoh untuk cicipan pembeli, bila ada yang cocok terus dan sebaliknya saya cari pelanggan lain,“jelasnya.

 

Saat ditanya mengapa sambel pecel menjadi pilihan ibu untuk usaha setelah pensiun sebagai PNS. Sundari yang dulu pernah bekerja sebagai PNS di Dinas Pertanian Kabupaten Magetan menuturkan, sambel pecel merupakan makanan khas jawa timur. Sambal ini banyak digemari masyarakat.Pilihan sambel pecel, karena melihat di lingkungan desanya banyak memproduksi  sambel pecel. Dari situlah awal cerita saya bersama suami  memuali usaha membuat sambel pecel dengan mempunyai rasa khas sendiri,”paparnya.

Sundari lulusan sarjana pertanian mengaku mendapat pengalaman dan ilmu cara membuat sambel pecel dengan cita rasa khas sendiri, saat dirinya masih aktif di pemerintahan.” ilmu dan pengalaman saat saya masih bekerja di dinas pertanian, dari situlah minimal di bidang pertanian dulu saya pernah menangani pengolahan pangan,”kata Sundari  yang sudah mensarjanakan 3 anaknya.

“Selain itu, saya juga mendapatkan pengalaman dan ilmu serta ketrampilan dari kegiatan PKK maupun Darmawanita.”Alhamdulilah ternyata semua itu  ada hikmahnya yang harus saya manfaatkan di masa tua bersama suami,”terang Sundari.

Salah satu hikmah yang dirasakan saat bekerja di dinas pertanian yakni cara pengolaan hasil pertanian dan pemanfaatan bahan disekitar.”Sekarang setelah pensiun kami memanfaatkan apa yang dihasilkan oleh masyarakat sekitar, dari situlah kami mulai mengelola,”jelas Sundari.

“Apalagi di lingkungan saya khususnya di RW 1, kurang lebih ada 10 orang yang memproduksi sambel pecel. Sambel pecel buatan lingkungan RW 1 sudah mempunyai pelanggan tetap, ada yang dijual di pasar, luar daerah, bahkan ada yang dijual di warung maupun di toko,”paparnya.

Sundari warga desa Jabung, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur ini, mengaku bahwa semua orang dapat membuat sambel pecel, tapi ibu yang pernah menjabat di kepala bidang pertanian kabupaten Magetan ini berkeinginan membuat sambel pecel harus berbeda dengan yang lain.”Saya sama bapak (suami) mempunyai trik tersendiri untuk membuat sambel pecel dan tentunya mempunyai rasa khas sendiri,”akunya.

Lanjut Sundari, mayoritas orang lain membuat sambel pecel dengan proses basah (cabe, kacang dalam keadaan basah).”Kalau sambel pecel buatan saya prosesnya kering, mulai dari bahan cabe dan kacang. Sedangkan bahan untuk sambel pecel kami melalui proses pilihan, saya tidak mau sembarangan, karena ini produk yang di konsumsi oleh manusia,”katanya.

“Bahan –bahan yang akan digunakan sambel pecel, kami seleksi bersama keluarga, dan itu harus benar-benar teliti,”tegasnya.

Sementara itu, Sundari bersama suaminya saat mengerjakan usaha sambel pecel di bantu oleh satu karyawan.”Saat ini kami masih mengerjakan secara manual, dan kami hanya mempunyai satu buah mesin pengiling,” jujurnya.

Pembuatan sambel pecel, Sundari di proses secara kering dan mampu bertahan hingga kurang lebih 4 sampai 5 bulan tanpa bahan pengawet”Semua itu saya kerjakan secara profesional sesuai petunjuk dinas kesehatan (dinkes) yang sudah memberikan lebel,”paparnya.

“Karena proses pembuatannya kering, sehingga minyak yang tergandung tidak akan keluar, jadi gizinya tetap utuh,”tutur ibu kelahrian 1957 lalu.

Masalah kendala yang sering ditemui yakni pengeringan cabe.”Ya kendala cuman satu mas, yakni kalau musim hujan terlalu lama untuk pengeringan cabe nggak terlalu lama,”paparnya.

Suwignjo menambahkan, diakuinya kendala saat ini adalah masalah alat yang digunakan untuk proses pembuatan sambel. Dia juga mengakui untuk melakukan suatu kegiatan pengolahan membutuhkan alat yang ada kaitnya dengan bahan yang dikelola.” Kalau usaha sambel pecel ini, yang jelas membutuhkan alat pengeringan, pengiling, alat pemisah kulit dengan biji kacang, mesin pengaduk, dan masih banyak lagi, dan itulah yang menjadi masalah kami, dan saya menyadari peralatan itu yang harus diadakan,”ungkap Suwignjo mantan sekretaris Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Magetan.

“Berhubung kami mulai dari bawah, jadi kami harus bisa menyesuaikan dengan kemampuan kami di dalam rangka memasarkan, dan apa yang kami peroleh selama ini dikit demi sedikit harus dapat disesuaikan dengan pemasaran,”katanya.

Lanjut pria yang dulu pernah menjabat camat lembeyan di era tahun 1989 ini menuturkan, tidak kok peralatan kami harus siapkan semua, tapi kemudian hari pemasaran belum bisa lancar dan sebagainya, yang nantinya akan menjadi kendala lebih banyak.

“Ini akan melakukan penambahan alat secara bertahap sesuai dengan pemasaran yang ada.” Kami akan melakukan secara manual dulu, sedikit demi sekidit kami akan melakukan penambahan alat guna menunjang pemintaan pasar,”terang Suwignjo yang dulu pernah menjabat sebagai Kasubag ekonomi pemkab Magetan pada era  tahun 1983.

Dengan pola pikir atau menajeman seperti itu, selama 3 tahun, Alhamdulilah awalnya kami hanya memproduksi sambel pecel sebanyak 20 sampai 25 kg sekarang kami mampu memproduksi 1 sampai 1, 5 kwital perhari.

Sambel pecel buatan Sundari bermerek “DHE SOEN” yang artinya Bude Sundari. Dhe Soen karena warga sekitar sering maupun pelanggannya memanggil Dhe Soen, karena sering dipanggil dhe soen akhirnya keluarga sepakat memberi nama sambel pecel “Dhe Soen”.

Selama kurang lebih 3 tahun ini, produksi sambel pecel Dhe Soen pemasarannya sudah sampai menyebar keseluruh daerah seperti  Magetan, Ngawi dan Ponorogo. Tidak hanya kota tetangga saja, akan tetapi pemasaran sambel Dhe Soen sudah mencapai kota besar seperti Suarabaya, Jakarta, Yoygakarta dan pulau besar di Indonesia seperti Kalimatan dan Bali.” Untuk kemasaan berat 500 gram pihak kami menjual seharga Rp 25 ribu dan yang lebih kecil ukurannya kami menjual Rp 20 ribu,” pungkasnya.Cng.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.