Kisah Mbah Sampun Dan Grop Cokean, Menjaga Eksistensi Karawitan Ditengah Gempuran Musik Elektone

Grop Coke’an yang diketua Mbah Sampun sedang main di salah satu repsepsi manten di Magetan

Suarakumandang.com,BERITA MAGETAN. Tangan keriput mbah Sampun (76) warga Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan Jawa Timur terlihat cekatan memainkan kecrekan yang berwarna merah kusam mengiringi melodi langgam caping gunung yang dilantunkan Pariyem, salah satu sinden rombongan cokean.

Sesekali dalam tempo tertentu Mbah Sampun terlihat menyorongkan mulutnya ke dalam sebuah benda sinder memanjang yang diletakkan di sampingnya.

Tak lama suara berdengung berat yang menyerupai suara gong besar menyempurnakan tetabuhan langgam ynag dibawakan oleh rekan rekannya.

Siang itu, grop cokean Mbah Sampun  ditanggap oleh salah satu instansi di Kabupaten Magetan untuk meramaikan even lomba pedet di Kecamatan Parang Kabupaten Magetan.

Mbah Sampun mengaku lebih dari dua pertiga perjalanan hidupnya diabdikan untuk menggeluti kesenian cokean. Sebuah grop gamelan yang terdiri dari pemain sitar, pemain kendang, pemain peking (semacam alat musik pukul sejenis centhe yang memiliki suara lebih melengking), pemain gong bumbung yang merangkap pemain kecrekan dan 2 orang sinden. “ Sejak muda duu saya sudah suka dengan cokean. Kalau sampai sekarang hamper dua pertiga hidup saya untuk cokean,” ujar Mbah Sampun .

Perbedaan grop cokean pimpinan Mbah Sampun  dengan grop karawitan lainnya kakek yang menyukai rokok kretek tersebut terletak pada jumlah peralatannya. Grop Cokean menurutnya memiliki  peralatan yang lebih sedikit dibandingkan dengan grop karawitan. Beberapa peralatan seperti gong gede akan digantikan oleh peralatan gong bumbung yang lebih ringkas saat dibawa berkeliling kampong. “ Peralatannya cuma ini saja kalau cokean, kalau karawitan kan lengkap, ada gong gede ada saron, lebih banyak gamelannya,” imbuhnya.

Dijaman serba digita,  termasuk serbuan musik elektone yang ikut meramaikan  hajatan  warga dengan manipulasi bunyi baik gamelan maupun grop musik yang lebih bervariatif tak menyurutkan semangat mbah Sampun untuk tetap menggeluti kesenian cokean.

Mbah Sampun mengaku  akan tetap setia menekuni profesinya sebagai pimpinan cokean,  meski kesenian tersebut saat ini  mulai tergerus kecangghan tekhnologi digital musik elektone.  Mbah Sampun mengaku masih mememiliki pangsa pasar sendiri untuk bertahan dengan kesenian cokean. Dia mengaku masih sering mendapatkan tanggapan dari pemilik hajatan yang tidak  mampu menyewa kesenian karawitan  dan hanya mampu menanggap cokean untuk meramaikan suasana. “ Tanggapannya semalam hanya Rp 1,5 juta, kalau dari pagi sampai malam agak mahal sekitid. Segitu  itu dibagi dengan 6 orang. Meski jarang, tapi masih ada yang nanggap,” imbuhnya.

Waktu banyak tanggapan cokean menurut Mbah Sampun adalah saat bulan baik untuk menggelar hajatan, baik hajatan menikahkan anak atau hajatan sunatan. Bulan tersebut biasanya jatuh pada bulan besar dalam penanggalan jawa. Sementara bulan sepi tanggapan menurutnya adalah saat bulan Suro, dimana ada pantangan untuk menggelar hajatan dalam kepercayaan budaya jawa. “ Kalau sepi tanggapan kerja kita ya berkebun, atau kerja seadanya,” katanya.

Jika tidak ada tanggapan dari pemilik hajatan, biasanya grop cokean mbah Sampun akan berkelana mengamen dari kampung ke kampung. Bahkan grop cokean Mbah Sampun bisa berbulan bulan tidak pulang ke rumah demi ngamen antar kampung, bahkan antar kota. Saat ini mengamen menurut Mbah Sampun tidak sesusah jaman dahulu, karena jaman dahulu harus jalan kaki untuk menuju desa desa yang ada di wilayah Magetan dan Madiun hingga Ponorogo  atau Ngawi. “ Sekarang sudah bawa motor. Semua peralatan diangkut diatas motor, kalau dulu harus jalan kaki,” katanya.

Meski tak lagi muda, namun wajah cerah Pariyem masih menyisakan guratan  kecantikan sebagai sinden yang menjadi idola pada masa kejayaan grop cokean dahulu. Suaranya masih lantang menyanyikan sejumlah tembang jawa yang direkues oleh tamu yang hadir.  Setali tiga uang dengan Mbah Sampun, Pariyem yang berusia (60) sudah lebih dari separuh hidupnya diabdikan untuk berkelana dari satu kampung ke kampung lainnya mengiringi grop cokean menghibur warga. “Mungkin saya akan menyanyi di grop cokean sampai tidak mampu atau sampai tidak ada lagi yang nanggap cokean,” ujarnya tersenyum lebar.

Sebuah bowo tentang perasaan seseorang yang jatuh cinta mengalun lembut dari bbibir  Pariyem. Senyumnya tersungging penuh optimis melihat tamu yang mereques langgam jawa terlihat puas menikmati alunan cokean Mbah Sampun. Adhim.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.