Connect with us

SKI Feature

Kisah Mbah Rawin Setengah Abad Berkreasi Dengan Gulali

Published

on

Sambil tersenyum Mbah Rawin saat mulai membentuk gumpalan gula menjadi kuda

Suarakumandang.com,BERITA MAGETAN.Mbah Rawin  (78) terlihat asyik membentuk gumpalan gula yang dipanaskan di sebuah wajan kecil yang diletakkan digerobak diatas sepeda tuanya. Dengan cekatan kakek dari Desa Ngariboyo Kabupaten Magetan itu membentuk hewan naga yang meliuk liuk. Tangan renta tu kemudian meraih  tusukan lidi yang di letakkan di bawah bulatan gula kental yang berbentuk hewan naga yang dibentuknya dan mengelem kembali dengan gumpalan gulali yang masih hangat. Sebentar kemudian gulali dengan bentuk naga telah di bungkus dengan plastic tipis agar tetap bersih.

Tak lama kemudian ratusan siswa sekolah Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tawanganom tempatnya mangkal menjajakan dagangannya yang mulai menyerbu dagangannya saat jam istirahat. Dengan cekatan tangan keriput tersebut kembali membentuk gumpalan gula yang diletakkan di wajan kecil  dengan berbagai bentuk pesanan anak anak yang membeli. Mah Rawin sendiri mengaku mampu membuat  gulalinya menjadi berbagai bentuk pemesannya. Dia mengaku mampu membuat 28 bentuk benda dan tokoh kartun yang terkenal. Bahkan sebagian benda yang dibuatnya merupakan model 3 dimensi seperti bentuk aslinya. “ Yang paling sulit itu membuat helicopter, agak rumit bentuknya.  Kalau Anak anak banyak yang suka dengan bentuk  teletubis karena bentuknya seperti boneka (3 dimensi),” ujar mbah Rawin.

Profesi membentuk gulali menjadi berbagai macam bentuk benda dan tokoh kartun ternyata telah digeluti mbah Rawin  sejak tahun 1958. Pada tahun tersebut dibutuhkan perjuangan  untuk menjajakan gulali buatannya karena untuk menjajakan antar desa Mbah Rawain harus jalan kaki puluhan hingga ratusan kilometer. Dia mengaku mampu menjajakan gulali daganganya hingga ke sejumlah sekolah dasar di Kota Ngawi yang jaraknya lebih dari 100 kilometer. “ Jualannya sampai jauh, sampai di sekolah sekolah di  Ngawi sana. Yang beli kebanyakan siswa sekolah,” imbuhnya.

Untuk menjajakan gulali dagangannya, Mbah Rawin mengaku tidak ada hari libur. Baginya tidak ada hari tanpa menjual gulalai meskipun hari itu tanggal merah. Jika hari minggu atau hari  libur nasional, mbah Rawin  mengaku  lebih memilih mangkal di Alun Alun  Kota Magetan. Disana langgannya bukan hanya anak anak kecil saja tapi langgananya juga ibu ibu yang sedang melakukan olah raga atau lagi bersantai di alun alun Magetan.” Saya belum datang mereka biasanya sudah menunggu.  Sambil bercanda saya bilang pacar mbah sudah  menunggu,” ujarnya sambil tertawa.

Dari salah satu orangtua siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tawang Anom  yang ikut membeli gulai dagangan mbah Rawin mengaku sejak kecil memang sudah suka gulali. Menurutnya penganan gulali mengingatkan kenangannya akan masa kanak kanak dulu yang belum banyak makanan ataupun jajanan  instan yang membahayakan  kesehatan seperti saat ini. “ Senang saja, dari dulu suka gulali. Apalagi  saat ini jajanan gulali seperti ini sudah  mulai langka.  Di Magetan saya hanya lihat embahnya ini saja yang jualan,” ujarnya.

Dalam sehari Mbah Rawin  mengaku mampu menghabiskan 5 kilogram gula pasir untuk membuat gulali. Gula pasir tersebut akan dipanasi oleh mbah Rawin diatas wajan yang  perapiannya berasal dari kompor kecil yang ditaruh di rombong yang bagian belakang sepeda tuanya. Setelah beberapa saat mencair dan mulai mengental, mbah Rawin mengaku akan menambahkan sejumlah warna makanan untuk mempercantik warna penganannya.

Meski dijajakan di atas rombong yang diusung sepeda tua, Mbah Rawin  mengaku jajan yang dijualnya bebas dari pewarna buatan  karena dirinya sering memeriksakan kualitas dagangannya ke dinas kesehatan dan mematuhi anjuran untuk hanya menggunakan pewarna makanan. “ Saya jamin bebas dari bahan kimia karena sering ditatar depkes. Pewarnanya pewarna makanan, dijamin,” ucapnya.

Diusianya yang meremabat merenta, mbah Rawin  mengaku akan tetap mencintai profesinya sebagai penjual gulali, jajanan kuno yang mulai tergerus oleh keberadaan jajan instan yang lebih banyak zat adiktifnya. Dia mengaku akan berkeliling kampung dan sekolah menjual gulali buatannya  hingga dirinya tidak mampu lagi keliling untuk berjualan di sekolah sekolah yang ada Di Kabupaten Magetan. Dia mengaku uang bukan semata mata alasan untuk menjual gulali, tetapi kepuasan batinnya akan terpenuhi jika melihat anak anak bisa tersenyum sambil menikmati penganan hasil karya tangannya tersebut. “ Senang kalau melihat mereka menyukai gulali buatan saya,” pungkasnya.Adhim.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.