Cerita Dibalik Jalan “Tim URC Magetan”

FOTO BARENG: Inilah anggota Tim URC Magetan yang bekerja sebagai pembenah jalan kabupaten yang berlubang

FOTO BARENG: Inilah anggota Tim URC Magetan yang bekerja sebagai pembenah jalan kabupaten yang berlubang

Magetan.suarakumandang.com-Ditengah berisiknya suara kendaraan yang lalu lalang di jalan raya menghubungkan Kabupaten Magetan dengan Kabupaten Ponorogo, justru sejumlah pekerja dengan sergam rompi warna orange sibuk memperbaiki jalan. Mereka adalah pekerja yang disebut dengan Unit Reaksi Cepat atau URC.

URC merupakan tenaga lepas dibawah kendali Dinas Pekerja Umum (DPU) Bina Marga dan Cipta Karya  Kabupaten Magetan, Jawa Timur. URC dibentuk oleh Bidang Bina Marga Jembatan dan Jalan, guna diperbantukan untuk memperbaiki ruas jalan kabupaten yang sifatnya darurat.

Adalah Wulandono, dia salah satu anggota URC bersama 4 rekannya sedang sibuk menata batu pada jalan yang berlubang. Panas terik matahari tak pernah mereka rasakan saat tengah melakukan pekerjaannya. Angin kering bertiup kencang membawa debu saat kendaraan besar sedang lewat sehingga  hal ini membuat mata mereka harus menyipit.

Meski demikian pria kelahiran 33 tahun silam ini  bersama 4 rekannya justru sibuk memperbaiki jalan yang rusak di kawasan Kecamatan Lembeyan Wetan. “Dengan mendapatkan pekerjaan ini,Alhamdulilah bisa untuk menyambung hidup keluarga, meski pekerjaan berada di jalan dan tempat kotor tapi saya lakukan dengan senang hati,”ungkapnya.

Pria dua anak ini bekerja dan bergabung dengan tim URC sudah kurang lebih 1 tahun, awalnya dia bekerja sebagai proyek jalan.”Upah yang saya terima perhari Rp 70 ribu, kalau saya tidak masuk, saya tidak menerima upah, hari sabtu dihitung lembur,”terangnya.

Saat ditanya soal uang makan, Dono menjelaskan, dari Rp 70 ribu tersebut Rp 60 ribu upah untuk bekerja sedangkan Rp 10 ribu untuk uang makan.”Kalau waktu makan siang biasanya kami makan di salah satu warung di pinggir jalan yang harganya miring, “tuturnya.

“Kalau kurang ya kurang mas, namanya manusia kalau menuruti nafsu pastinya selalu kurang, tapi saya dapat bekerja ini saja Alhamdulilah, Rp 70 ribu sudah standart lebih dari cukup,”ungkapnya.

Lanjut Wulandono yang akrab di dipanggil Dono ini mengaku sedikit kuwalahan bilamana ada kerusakan jalan secara bersamaan. “Kami hanya berlima untuk mencangkupi wilayah se-kabupaten Magetan,”paparnya.

“Untuk Magetan jalan yang sering mengalami kerusakan fatal dan berlubang yakni wilayah Kecamatan Lembeyan,Parang, dan Kawedanan. Kami terus berjalan dan menyebarkan nomer handphone kepada warga bila suatu saat ada jalan yang rusak tim URC siap dan langsung datang ke lokasi, terkadang info langsung dari pihak DPU”ucapnya.

Wulandono yang tinggal di  Desa Driyorejo, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan, pekerjaan yang dijalani selama kurang lebih satu tahun ini merupakan pekerjaan yang sering menantang resiko. Mereka bekerja ketika saat ditengah jalan yang banyak kendaraan lalu lalang dengan kecepatan tinggi.

Untuk mengantisipasi kendaraan dari dua arah mereka memberi  tanda jika ada pekerja yang sedang memperbaiki jalan.”Saya beri tanda mas, biar kendaraan dari dua arah bisa tahu kalau disini ada pekerja,”ujar Wulandono.

Pria rambut pirang ini, menjelaskan, untuk menghindari kendaraan pihaknya selalu mempersiapkan properti keamaan seperti misal rambu-rambu jalan yang memberi tanda bahwa sekitar jalan ada perbaikan.

Pengalaman yang tidak dinginkan sering menghampirinya.Pernah suatu ketika ada sebuah kendaraan sepeda motor dengan kecepatan tinggi hampir menabrak dirinya bersama rekannya ketika itu sedang memperbaiki jalan.” Pernah mas, saat itu saya bersama 4 teman lainnya hampir tertabrak kendaraan roda dua maupun roda empat,”paparnya.

“Saat itu saya sedang bekerja di kawasan ruas jalan Lembeyan wetan, tiba-tiba dari arah barat terdengar suara rem mendadak dan menabrak tanda,  beruntung kami berlima tidak apa-apa,”terangnya.

Dono menjelaskan, terkait material yang dibawanya seperti aspal,mesin penggilas ukuran kecil dan cangkul maupun serok kesemunya disediakan oleh  DPU, sedangkan truk menyewa.” Semua peralatan disediakan oleh pihak DPU dan truk yang kami bawa pihak DPU  menyewa perbulan Rp 3 juta 500,”ucapnya.

 

Selama memperbaiki jalan terkadang Tim URC merasa kasihan kepada para pengendara, bilamelihat kondisi jalan seperti saat diperbaiki.”Terkadang kasihan mas, bagaimana tidak, dengan kondisi jalan seperti itu, banyak membuat kendaraan pengendara rusak, bahkan ada yang menyebabkan kecelakaan tunggal,” cetusnya.

“Kami hanya berharap kedepan pihak DPU bisa menambah tim anggota URC , secara otomatis dengan semakin bertambahnya tim URC maka kerusakan jalan secara darurat segera tertangani dan tidak membuat kekecewaan kepada pengguna jalan,”pangkasnya.Cahyo.

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.