Buku Biografi “Dalane Uripku” Karya Suprawoto dibedah di Magetan

Suarakumandang.com,BERITA MAGETAN. Buku karya Suprawoto berjudul “Dalane Uripku” dibedah di Taman wisata Mojosemi Forest Park Magetan, Jawa Timur. Senin,(11/06/2018).

Dalam acara bedah buku dalane uripku karya Suprawoto dibedah langsung oleh Rakhmat Giryadi dan Tjahjono Widarmanto, masing-masing merupakan pakar Sastra dari jawa Timur.

Menurut Tjahjono Widarmanto buku karya Suprawoto sangat menarik untuk dibaca karena didalam buku tersebut menceritakan semasa hidupnya sejak kecil hingga kini dengan bahasa Jawa.”Bahasa Jawa yang dipilih oleh Suprawoto dalam biografinya bahasa jawa Ngoko bukan bahasa krama Madya atau krama inggil,”kata Tjahjono.

“Dengan bahasa jawa Ngoko, komunikasi yang dibangun oleh Suprawoto adalah komunkasii egaliter, komunikasi yang berbasis kerakyatan,”paparnya.

Dijelaskan kembali, Suprawoto mendudukan bahasa yang berfungsi komunikasi masyarakat yang bisa menjadi meminjam, istilah Foucault sebagai “teknologi kekuasaan”.

Bahasa Jawa Ngoko dalam biografi ini digunakan sebagai sebuah produk budaya yang generic dibagi bersama dan dipraktikan secara kolektif. Sekaligus digunakan pula sebagai upaya untuk menegosiasikan dalam keseluruhan interaksi sosial.

Masih Kata Tjahjono, dengan memilih bahasa jawa ngoko biografi ini mengikari feodalismi jawa yang menyekat diantara sastra masyarakat.”Melalui bahasa jawa ngoko dibongkarlah representasi masyarakat yang feudal menjadi representasi egaliter yang demokratis,”ungkapnya.

Dalam buku dalane uripku terdapat  upaya membangun komunikasi politik. Teks dan politik sejak jaman baheula memiliki keterkaitan yang simbosis mutualisme . Teks dan politik berkelindan dan bersilingkuh untuk menuju titik kepentingan tujuan.

“Teks bisa menjangkau keranah politik karena berbahan baku bahasa. Sedangkan bahasa dikatakan Thomas dan wareing memilik empat fungsi diantaranya ada dua fungsinya berkaitan dengan kekuasaan yaitu referensial dan afektif,”tuturnya.

Lanjut Tjahjono fungsi referensial sendiri berkaitan dengan bagimana mempresentasikan atau menggambarkan dunia disekitar sesuai kepentingan kuasa dan dampak dari representasi itu terhadap cara berfikir. Sedangkan fungsi efektif dari bahasa terkait dengan siapa boleh  berhak mengatakan apa, yang berkaitan erat dengan kekuasaan dan status sosial.

“Biografi dalane uripku walapun tidak secara eksplit juga menujukan dua fungsi tersebut utamanya fungsi referensial,”jelasnya lagi.

Melalui biografi Suprawoto, menjalin komunikasi politik dengan menggambarkan dunia disekitarnya.”Dalam buku tersebut bisa dilihat bab bab berikut sub bab sub babnya dalam biografi ini ditulis dengan menggunakan teknik penulisan jurnal atau catatan harian,”terang Tjahjono kembali.

“Secara filosofi “ingatan” menjadi kekuatan baku dari buku ini. Ingatan atau memori atai eling dalam bahasa jawa merupakan bentuk filosofi untuk melawan lupa dan catata harian sebagai bentuk melawan lupa,”paparnya lagi.

Buku karya Suprawoto diakui Tjahjono yang merupakan seorang dosen disalah satu universitas ternama di Surabaya yang paling menarik bahwa buku biografi ini ditulis dengan menggunakan bahasa jawa bahasa jawa ngoko.

Sementara itu pakar sastra yang saat ini sedang menyelesaikan kuliahnya S3 di universitas Surabaya (UNESA) mengaku sangat bangga dan mengapresiasikan terbitnya buku biografi berbahasa jawa ngoko.”Kalaupun ada latar belakang politik itu tidak mengurangi nilai dari buku tersebut,”tandasnya.

Diwaktu yang berbeda suprawoto mengatakan banyak manfaat dari acara bedah buku ini.“Namanya buku itu perlu dibedah, sebab, ada manfaat bagi si penulis, misalkan kalau ada kelemahan dan buku itu harus diteliti supaya hasilnya bagus,”kata Suprawoto usai acara bedah buku.

Buku Dalane Uripku yang ditulis selama 6 tahun ini menceritakan kehidupannya sejak kecil hingga dewasa sampai  mengenal dunia luar.”Satu misal waktu kecil bermain dengan teman, masa sekolah dan masih banyak cerita dimasa saya masih kecil dan muda hingga saat ini,”kata Suprawoto.

“Saya menulis buku dalane uripku ini tidak mengenal waktu, terkadang sambil menunggu pesawat atau bahkan didalam pesawat saat berpergian ke Eropa atau ke Jepang. Waktunya tidak mesti, terkadang pas naik kereta api atau bahkan dirumah pas waktu longgar,”jelas Suprawoto.

Suprawoto yang akhir-akhir ini akrab disapa kang Woto dalam menulis buku dalane uripku dilakukan sejak tahun 2009 lalu. “Saya sudah cetak dua kali, cetak pertama berjumlah 2.000 semua saya bagikan gratis ke perpustakaan se-jawa timur, dan yang ini cetak kedua dengan jumlah sama,”pungkasnya. Cahyo.

 

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.